Banyak Kebocoran Anggaran, Pertumbuhan Ekonomi 2011 Moderat

Banyak Kebocoran Anggaran, Pertumbuhan Ekonomi 2011 Moderat

- detikFinance
Minggu, 07 Agu 2011 13:15 WIB
Jakarta - Kebocoran anggaran yang masih terjadi di beberapa titik APBN dinilai menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi RI. Pertumbuhan ekonomi masih akan moderat dan tidak akan tembus 7 persen.

Pengamat ekonomi Drajad Wibowo menilai pertumbuhan yang dicapai Indonesia sebesar 6,5 persen selama 2 kuartal berturut dalam tahun ini memang masih dalam kisaran dalam APBN-P 2011, yaitu 6,4 persen.

"β€ŽPertumbuhan tersebut masih moving-in-a-range masih bergerak dalam selang sesuai ekspektasi. Dia tidak anjlok ke batas bawah, tapi juga tidak menembus batas atas 7 persen. Karakteristik growth juga masih sesuai kebiasaan," ujarnya kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (7/8/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Drajad, ada 2 hal yang perlu dilakukan agar pertumbuhan ekonomi tanah air bisa meroket menembus 7 persen, atau paling tidak bisa mencapai target hingga tahun 2014, yaitu 7 persen. Pertama, menjaga investasi pada kisaran 10-15 persen.

"Kalau kita ingin meningkatkan kualitas growth, minimal 2 hal harus dilakukan. Pertama, usahakan agar pertumbuhan kita menjadi investment-led growth. Pertumbuhan investasi harus dijaga minimal 10-15 persen. Sekarang ini masih single digit," ujarnya.

Kedua, lanjut Drajad, perlu ada reformasi dan efisiensi belanja negara. Menurutnya, adanya kebocoran anggaran membuat belanja negara belum maksimal. Hal inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi belum pesat

"Belanja APBN belum maksimal mendorong growth and equity karena banyak kebocoran di semua lini. Harus ada perubahan radikal dalam rezim belanja APBN," tandasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kuartal II-2011 tumbuh 6,5% (yoy). Pada periode kuartal II-2011 pertumbuhan didorong utamanya oleh sektor perdagangan.

"Di kuartal II-2011 pertumbuhan tertinggi didorong oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 4,8%. Lalu konstruksi 4,2%, kemudian listrik, gas dan air bersih 4%," kata Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantor BPS, Jalan DR. Soetomo, Jakarta, Jumat (5/7/2011).

Rusman mengatakan, secara nominal, pertumbuhan ekonomi 6,5% (yoy) ini mencapai Rp 1.811,1 triliun. Lebih tinggi dari triwulan I-2011 yang sebesar 1.738,2 triliun. Sebab originalnya pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2011 adalah 6,47%, dan di triwulan II-2011 adalah 6,49%.

"Jika digabung semester I-2011 maka PDB nominal kita adalah Rp 3.549 triliun. Semester II diperkirakan lebih tinggi sehingga perkiraan kami PDB nominal bisa Rp 7.400 triliun," tuturnya.

Dikatakan Rusman, pertumbuhan per kapita Indonesia di 2011 bisa mencapai US$ 3.500-3.600 apabila nilai tukar rupiah adalah Rp 8.600/US$.

Sepanjang triwulan II-2011 pertumbuhan ekonomi masih ditopang sektor konsumsi yang tumbuh 4,6%, lalu belanja pemerintah 4,5%, investasi 9,2%, ekspor 17,4% , dan impor 16%.

(nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads