"Mulai 3 September akan ditertibkan, sampai 3 bulan, setelah itu akan dicarikan tempat lain bagi penambang liar tersebut," kata Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Emas Rakyat Indonesia (Asperi) Syamsuddin Said kepada detikFinance, Jumat (12/8/2011).
Syamsuddin mengatakan jumlah penambang emas liar di kawasan Paboya, Palu kini bisa mencapai 5000-10.000 orang. Jika penutupan itu benar-benar terjadi ada potensi protes massa besar-besaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan alasan rencana penutupan kawasan tambang emas Paboya dari penambang liar karena masalah pencemaran lingkungan dari merkuri di kawasan itu sudah memprihatinkan. Apalagi kawasan seluas ribuan hektar itu berdekatan dengan kota Palu Sulawesi Tengah.
"Dari Pemda sudah resmi, cuma belum ada SK penertibannya, sedang lobi Aburizal. Itu yang PT Citra Palu Minerals, dibawah Bumi Resources," katanya.
Syamsuddin memahami upaya penertiban tersebut karena posisi Aburizal Bakrie yang dikabarkan akan mencalonkan diri jadi presiden 2014. Ia mengaku sudah bertemu dengan Bambang Sulisto, Preskom Bumi Resources agar proses penertiban tersebut tak menimbulkan konflik.
"Soal tambang emas ini kalau dibiarkan jadi masalah baru, seperti Lapindo," katanya.
Kawasan Paboya merupakan kawasan Taman Hutan Lindung, dan awalnya lokasi ini menjadi konsesi tambang emas Rio Tinto. Setelah melakukan eksplorasi, hasilnya tak besar, kemudian Rio Tinto mengalihkannya pada PT Citra Palu Minerals bagian dari Group Bakrie.
Syamsuddin menuturkan para penambang emas ini memang masuk kategori liar walaupun ia mengatakan pihak pemda 'mengizinkan' termasuk perusahaan pemegang konsesinya.
"Ini memang liar semua, tapi daripada kita punya pangsa diambil orang lain. Maksudnya pemegang konsesi areal ini tak marah. Saya pernah ketemu Pak Ical (Aburizal Bakrie), dia bilang belum ada dana (untuk eksplorasi). Dia bilang silahkan eksplorasi. Selagi untuk rakyat tak ada masalah," katanya beberapa waktu lalu.
(hen/qom)










































