Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, dirinya berharap agar piutang-piutang Pertamina dapat segera dilunasi dari para pihak yang berhutang kepada BUMN migas tersebut.
"Kita berharap, semakin cepat dibayar kepada Pertamina, maka semakin bagus. Mengingat Pertamina juga memiliki prospek bisnis yang bagus," harapnya saat ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (12/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang piutang Pertamina itu banyak sekali mencapai Rp 20 triliun lebih. Itu yang saya tahu kan dia ada piutang dari PLN yang hampir Rp 20 triliun. PLN sudah siap bayar sekitar Rp 15 triliun mudah-mudahan di akhir tahun 2011 ini bisa di bayar, kalau perlu pakai bridging dengan perbankan," ungkap Mustafa.
Selain itu, Pertamina masih ada piutang dengan pihak TNI, dan juga dengan TPPI. Untuk piutang TNI, Mustafa mengatakan sudah dibayar sebagian, hanya utang dari TPPI saja yang masih perlu keputusan banding. "Untuk itu sedang disiapkan jalurnya, sedang diproses, semoga dapat segera kembali, jadi harapan untuk perkecil piutang itu ada sekarang," yakinnya.
"Saya sendiri melihat efektifitas penagihan utang sekarang cukup positif. Kementerian belum mau dan tidak perlu lakukan intervensi dari Kementerian untuk kumpulkan BUMN terkait, kelihatannya antara mereka sudah bisa melakukan secara b to b dan berjalan baik," tanggapnya lebih lanjut.
Seperti diketahui, pada berita yang lalu, total piutang milik PT Pertamina kepada sejumlah institusi maupun perusahaan untuk posisi 9 November 2009 mencapai Rp 30,55 triliun
Sebanyak Rp 18 triliun dari piutang tersebut merupakan piutang milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebanyak Rp 1,119 triliun piutang dari PT Garuda Indonesia dan Rp 313 miliar dari PT Merpati Nusantara Airlines.
Sementara sebanyak Rp 3,8 triliun merupakan milik Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) dan sisanya sebesar Rp 7 triliun adalah piutang ke Tentara Nasional Indonesia (TNI).
(nrs/dnl)










































