DKI Jakarta yang padat populasi manusianya bukan berarti menggeser populasi hewan ternak di ibukota ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencapat masih ada sebesar 4.611 ekor hewan ternak yang dipelihara di kota paling padat penduduk di Indonesia ini.
"Memang kita jarang melihat ada sapi berkeliaran di Jakarta, tapi sebenarnya ada di Cipayung (Jakarta Timur)," demikian disampaikan Kepala BPS, Rusman Heriawan saat rilis hasil awal pendataan sapi potong, sapi perah, dan kerbau tahun 2011 (PSPK) di kantor Kementerian Pertanian, Jumat (12/8/2011).
Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, jumlah populasi sapi di DKI Jakarta adalah sebagai berikut, Sapi potong 1.691 ekor, Sapi perah 2.728 ekor, dan Kerbau 192 ekor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu provinsi yang juga mendapatkan perhatian dari Rusman adalah Banten yang populasi kerbaunya lebih besar dibandingkan dengan sapi potongnya. Tercatat populasi kerbau di Banten mencapai 123.143 ekor, sedangkan junlah sapi potong hanya 46.900 ekor.
"Banten itu satu-satunya provinsi yang populasi kerbaunya lebih tinggi dari daging kerbau. Katanya, orang banten lebih suka kerbau dari daging sapi," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama BPS mencatat Pulau Sumatera merupakan kawasan yang paling baik untuk mengembangkan sapi potong untuk dalam negeri. Dari data yang dihimpun oleh BPS, tercatat perkembangan populasi sapi di Pulau Sumatera sebesar 9,66% per tahun
"Pertumbuhan populasi sapi di Sumatera paling prospektif," kata Rusman.
Data yang didapat tersebut adalah perbandingan hasil awal PSPK 2011 dengan data sensus pertanian tahun 2003.
Rusman menjelaskan, penambahan rata-rata per tahun sapi di Pulau Sumatera mencapai 177.800 ekor per tahun. Pada perhitungan tahun 2003 tercatat jumlah populasi sapi di Pulau Sumatera mencapai 1.304.132 dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 2.726.756 ekor sapi.
"Penambahan per tahunnya itu 177,8 ribu ekor per tahun di Sumatera," ujarnya.
Untuk rata-rata nasional, kata Rusman, pertumbuhan populasi sapi hanya sebesar 5,32% atau hanya sekitar 653,1 ribu ekor per tahunnya. Dari perhitungan tersebut, Pulau Jawalah yang perkembangannya paling kecil hanya 3,85%.
"Walaupun Jawa paling besar volumenya, tapi perkembangan rata-rata paling kecil," tambahnya.
Perkembangan rata-rata populasi sapi menurut pulau perbandingan tahun 2003 ke 2011 sebagai berikut:
- Sumatera 9,66%
- Jawa 3,85%
- Bsli dan Nusra 4,95%
- Kalimantan 4,92%
- Sulawesi 7,68%
- Maluku dan Papua 4,84%
Β
(ade/ang)










































