"Saya ingin ada satu badan penyangga untuk mutiara. Saya harap dengan adanya badan penyangga ini harga mutiara Indonesia dapat mencapai US$ 15 per gram," kata Sekjen Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI) Bambang Setiawan ketika ditemui di kantor Kementerian Perdagangan Senin (15/8/2011).
Bambang menambahkan, badan penyangga ini juga dapat menyelamatkan para penambak mutiara dari semakin banyaknya pungutan yang menambah biaya produksi. Menurut Bambang fenomena ini semakin banyak semenjak adanya otonomi daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang mengungkapkan, dirinya juga terkena imbas dari pemansan global yang membuat kualitas mutiara jadi turun. Dengan begitu, juga menurunkan harga mutiara di pasar internasional.
"Karena global warming terjadi pernurunan kualitas kerang. Itu juga akan berimbas ke harga kerang yang biasanya US$ 15 per gram," imbuhnya.
Bambang menjelaskan, semenjak tahun 2009 produksi mutiara terus mengalami penurunan. Tahun 2009 ekspor mutiara mencapai 4,5 ton sedangkan pada tahun 2010 ekspor mutiara hanya mencapai 3,7 ton.
Lebih lanjut Bambang menambahkan, dirinya menargetkan pada tahun 2011 ini ekspor mutiara dapat mencapai 3,8 ton. "Itu sama dengan 53% kebutuhan mutiara dunia yang sekitar 9 ton," pungkasnya.
Pada 2010, nilai perdagangan mutiara dunia mencapai US$ 1,5 miliar dan Indonesia baru mampu mengekspor US$ 30 juta. Jenis mutiara yang paling mahal dan terkenal adalah south sea pearl, dimana Indoneisa masih tercatat sebagai negara produsen mutiara terbesar di dunia.
Di dalam negeri bisnis ini digeluti oleh 27 perusahaan skala menengah dan besar dengan mempekerjakan sekitar 3.000 orang, terdapat 100 pedagang mutiara, mempekerjakan 100 orang pekerja perhiasan mutiara, 300 pengrajin mutiara, dan melibatkan 5.000 usaha kecil penghasil benih mutiara.
(ade/hen)











































