Peringatan itu disampaikan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Selasa (16/8/2011).
"Secara terus-menerus harga pangan yang tinggi dan stok makanan yang rendah menunjukkan bahwa kita masih di zona bahaya, dengan orang-orang yang paling rentan yang paling tidak mampu mengatasi," kata dalam sebuah pernyataan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kewaspadaan sangat penting mengingat ketidakpastian dan volatilitas yang ada saat ini. Tidak ada bantalan," imbuhnya.
Menurut laporan terbaru Food Price Watch Report, harga pangan saat ini sudah mendekati rekor tertinggi tahun 2008 dan menjadi kontributor terbesar bagi masalah di Afrika.
Bank Dunia mengatakan, selama tiga bulan terakhir, dilaporkan 29.000 anak balita meninggal di Somalia dan 600.000 anak-anak di wilayah tersebut tetap berisiko dalam krisis yang mengancam kehidupan lebih dari 12 juta orang.
"Tidak ada dimanapun kecuali di Afrika dimana harga pangan yang tinggi, kemiskinan dan ketidakstabilan digabungkan sehingga menghasilkan lebih banyak penderitaan tragis," kata Zoellick.
Bank Dunia tercatat telah meningkatkan jangka pendek bantuan melalui jaring pengaman bagi kaum miskin dan rentan di tempat-tempat seperti Kenya dan Ethiopia. Lembaga keuangan internasional itu telah menyediakan $686 juta untuk menyelamatkan nyawa, meningkatkan perlindungan sosial, dan memacu pemulihan ekonomi dan ketahanan kekeringan bagi orang-orang di Afrika.
Zoellick telah berulang kali mendesak kelompok 20 ekonomi utama tahun ini untuk menjadikan krisis pangan sebagai prioritas utama, dan menurutnya dana lebih banyak dibutuhkan untuk daerah tersebut. Dari total sumber daya yang dilakukan sejauh ini -- US$ 1,03 miliar -- sebanyak US$ 870 juta telah digunakan untuk upaya darurat, dan sisanya didedikasikan untuk tujuan jangka panjang. Menurut Bank Dunia, dana tambahan sebesar US$ 1,45 miliar masih diperlukan.
"Harga pangan global yang terus tinggi dan bencana yang ditimbulkan oleh manusia di Afrika telah menunjukkan urgensi untuk mengatasi faktor-faktor jangka panjang dan struktural yang berkontribusi terhadap kerawanan pangan bagi golongan rentan, mengingat peningkatan risiko kekeringan berulang karena perubahan iklim," demikian laporan Bank Dunit tersebut.
Bank Dunia menyoroti harga pangan yang menunjuk kenaikan 11% untuk harga beras antara Mei dan Juli menyusul penurunan umum sejak Februari.
Harga pangan domestik terus berfluktuasi secara luas di seluruh dunia. Perubahan harga tahunan di jagung dalam 12 bulan sampai Juni 2011, misalnya, berkisar dari kenaikan 100% atau lebih di Kampala, Mogadishu, dan pasar Kigali untuk pengurangan 19% di Port-au-Prince dan Mexico City.
Dan harga pangan adalah faktor utama dari inflasi umum di berberapa negara. Di China, harga daging babi, udang dan ikan naik sangat tinggi di kuartal terakhir, menyebabkan inflasi harga pangan sebesar 14,6% pada Juni dari tahun sebelumnya.
Di Vietnam, inflasi harga makanan naik 30,6%, karena makanan yang diproduksi secara lokal seperti daging dan sayuran.
"Namun, inflasi di negara-negara ini diperkirakan akan moderat dalam waktu dekat saat meningkatkan pasokan lokal dan dengan asumsi kebijakan moneter diperketat untuk mengatasi kerentanan makroekonomi," kata Bank Dunia.
(qom/qom)










































