"Di ketidakpastian itu, ekonomi kita tahun ini diperkirakan 6,5 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun ini yang merupakan pertumbuhan tertinggi setelah krisis 1998 didukung oleh investasi, ekspor, dan konsumsi masyarakat," kata SBY saat menyampaikan Laporan Nota Keuangan RAPBN 2012 di gedung DPR-RI, Selasa (16//8/2011).
Isu terkini global menjadi pembahasan awal Presiden SBY ketika memulai pidato laporan nota keuangannya. Diperkirakan ekonomi dunia dilanda berbagai perkembangan di bulan-bulan mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY mengatakan perlambatan laju pertumbuhan juga akan terjadi di kawasan Asia, meskipun tahun ini perekonomian Asia masih akan menjadi yang terbaik. Dikatakannya Tiongkok dan India, akan tetap menjadi motor penggerak perekonomian Asia.
Masalah krisis keuangan yang melanda Eropa, meningkatnya inflasi dan risiko overheating perekonomian di Tiongkok dan India serta krisis fiskal yang tidak tuntas di Amerika Serikat baru-baru ini, menurutnya merupakan risiko tambahan bagi perekonomian dunia tahun ini dan tahun depan.
"Semuanya itu harus kita waspadai dan antisipasi, agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi di negara kita," katanya.
Menurutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi akan digerakkan oleh sektor industri pengolahan, sektor pertanian dan sektor pertambangan.
"Sementara itu, kenaikan harga komoditas dunia serta cuaca ekstrim yang terjadi di beberapa wilayah, telah memberi tekanan pada laju inflasi di dalam negeri. Pada tahun 2010 lalu, laju inflasi mencapai 6,96 persen, sementara hingga bulan Juli tahun ini, inflasi kita—secara tahunan—mencapai 4,61 persen," katanya.
SBY menuturkan pemerintah telah dan akan senantiasa menempatkan pengendalian harga-harga sebagai prioritas utama, dalam menjaga stabilitas ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Tercatat nilai tukar rupiah terus mengalami penguatan. Hingga akhir Juli 2011, rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp 8.716 per USD, atau menguat 4,93 persen bila dibandingkan dengan tengah perkembangan posisinya pada periode yang sama tahun 2010.
"Dengan tetap terjaganya kepercayaan terhadap Rupiah, tingkat suku bunga BI rate dapat dipertahankan pada tingkat 6,5 persen sepanjang tahun 2010. Pada bulan Februari 2011, suku bunga acuan BI dinaikkan sebesar 25 basis point menjadi 6,75 persen, dan masih dipertahankan hingga saat ini," katanya.
Ia juga menambahkan penyaluran kredit perbankan sampai dengan bulan Juni 2011 meningkat hingga mencapai Rp1.973 triliun, atau tumbuh lebih dari 23 persen. Begitu pula, kondisi kesehatan perbankan juga makin kuat.
Tercatat juga, rasio kecukupan modal bank umum hingga Mei 2011, relatif terjaga 17,4 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah bank umum berhasil diturunkan menjadi sekitar 2,6 persen pada akhir tahun 2010. Ini merupakan tingkat terendah dalam lima tahun terakhir.
"Sementara itu kinerja pasar modal dalam negeri tidak terlepas dari perkembangan pasar global dan regional. Setelah mengalami kenaikan yang spektakuler menembus angka 4.000, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia mengalami koreksi dalam minggu-minggu terakhir ini menjadi 3.900-an pada minggu kedua Agustus 2011," katanya.
(hen/qom)










































