"Karena anggaran itu kan kami serahkan kepada mereka kemudian mereka seharusnya melakukan operasi pasar seperti yang saya lakukan bersama para importer kemarin. Kalau ada yang melihat ada sapi sapi betina produktif, itu harus segera diamankan, dibeli saja, tentu dengan harga jangan sampai merugikan petani ternak," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Prabowo Respatiyo Caturroso dalam rilisnya yang diterima detikFinance, di Jakarta, Selasa (16/8/2011).
Menurut Prabowo, sapi betina tersebut akan dikembangbiakkan dalam upaya swasembada gading 2014. Sapi akan dikumpulkan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dan akan dijadikan bibit. "Perlu diketahui bibit sapi lokal kita ini adalah bibit sapi terbaik. Kita punya ternak lokal yang bagus seperti sapi Bali, sapi Madura sapi Aceh dan sapi Beo. Itu yang harus diselamatkan," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan untuk mencapai swasembada ini memerlukan dukungan semua pihak baik dari pemerintah, pengusaha maupun masyarakat. Semua harus bergerak, dan tidak hanya sekedar slogan. Harapan kami importir lain akan mengikuti, karena selain ini kegiatan sosial juga akan membantu program pemerintah," pungkasnya.
Dikatakannya, pada hari Sabtu (13/8/2011) rombongan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan bersama beberapa importir yang mewakili PT Anzindo Gratia International dan PT Karunia Segar Utama serta Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) mengadakan kegiatan sosialisi agar peternak berhenti untuk memotong sapi betina produktif di beberapa tempat yakni Purwokerto, Kebumen hingga sebuah peternakan sapi di daerah Gunung Dieng, Jawa Tengah.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) Afan Anugroho menegaskan, pihaknya sangat berkepentingan dengan kesuksesan program swasembada daging sapi nasional tahun 2014. Ia mengungkap, laju pemotongan sapi betina produktif begitu cepat dan masif bahkan nyaris tidak ada yang bisa mencegah walaupun pemerintah sudah mengeluarkan regulasi UU No. 18 tahun 2009 soal peternakan dan kesehatan hewan.
"Kalau pasokan yang disediakan oleh lokal itu tidak ada, maka persediaan daging akan habis, sedangkan pemerintah sendiri kan melakukan pengurangan impor kuota terhadap daging impor Indonesia," tandasnya.
ADDI menilai sebenarnya gerakan ini adalah momentum pemerintah agar jangan berwacana lagi, karena salah satu penyumbang inflasi diakibatkan harga daging dari peternak melonjak naik, hal ini tidak akan dikehendaki oleh pemerintah, sedangkan satu sisi peternak sudah dapat merasakan keuntungan dari hasil penjualan ternak mereka.
"Artinya kegairahan dalam berbisnis sapi nantinya akan meningkat. Jadi ini momentumnya sudah pas. Menurut saya pemerintah harus segera mewujudkan revitalisasi dan jangan berwacana lagi," kata Afan.
(zal/hen)











































