Seorang Senator Australia yaitu Chris Back mengeluarkan pernyataan resmi dari seorang penjagal hewan di Binjai Indonesia, bahwa penjagal itu dibayar untuk menyiksa sapi dan direkam. Chris mengatakan dia mendapatkan informasi dari sumber terpercaya bahwa penjagal hewan di Indonesia dibayar Rp 150 ribu atau AUD 17.
Wakil Ketua DPD Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Sumatera Utara Elianor Sembiring mengatakan semenjak ramainya kembali tudingan itu, pekan lalu beberapa media Australia banyak datang ke Medan. Langkah ini bertujuan untuk mengkonfirmasi kembali kasus penyogokan penjagal sapi di Binjai dengan melakukan kekerasan pada sapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan masalah ini kembali mencuat karena ada dugaan motif menyerang balik atau balas dendam para eksportir sapi hidup Australia melalui senator kepada LSM pecinta hewan di sana. Senator yang berkicau soal penyogokan syuting video kekerasan sapi Australia merupakan kelompok yang pro terhadap nasib eksportir sapi Australia.
"Ada senator yang tak terima, mereka nggak puas, bahwa (Rumah Potong Hewan) yang di Medan itu rekayasa. Mereka kelompok yang pro eksportir, mereka mau ngerjain LSM itu," katanya.
Elianor mengatakan pihaknya tak keberatan adanya upaya membongkar kembali kasus ini. Memang ia mengakui ada informasi-informasi yang belum terkonfirmasi secara benar misalnya soal jumlah sogokan Rp 150.000 terhadap penjagal sapi di Medan.
"Di Binjai memang benar Ali Aman bilang terima Rp 50.000, yang di Mabar (Medan) Rp 150.000 padahal itu saya tak bilang seperti itu. Kalau saya sih silakan saja untuk mencari kebenaran," katanya.
Video proses pemotongan sapi di beberapa RPH yang ditayangkan pada program ABC's Four Corners terkait kekerasan sapi sebelum dipotong sempat membuat heboh. Masalah ini melebar menjadi penghentian sementara pengiriman sapi bakalan ekspor Australia ke beberapa rumah potong hewan yang diduga melakukan kekerasan..
Β
Dalam program televisi ABC's Four Corners pada Senin (30/5/2011), tayangan tersebut memunculkan bagaimana sapi-sapi ternak itu menderita saat dipotong karena matanya dicungkil, kepala sapi ditendang-tendang, buntutnya ditekuk, pemotongan lehernya dilakukan secara brutal dan tindakan kekerasan sapi lainnya.
Setelah melihat tayangan tersebut, LSM ternak hidup LiveCorp memberitahukan kepada otoritas industri sapi untuk penghentian ekspor sapi ternak Australia ke Indonesia. Pemerintah Australia mulai 7 Juli 2011 mengambil keputusan sepihak menghentikan ekpor sapi mereka meski ditentang oleh kalangan eksportir sapi mereka.
Penghentian ekspor itu berdampak buruk bagi eksportir sapi Australia. Maklum saja nilai ekspor ternak sapi Australia kini mencapai AU$ 652 juta atau sekitar US$ 697 juta pada tahun 2008-2009, dengan Indonesia sebagai pangsa pasar terbesar. Industri ternak sapi Australia tercatat mempekerjakan sekitar 10.000 karyawan.
Akhirnya, Perdana Menteri Australia Julia Gillard memberikan bantuan kepada para peternak sapi Australia hingga AUD 30 juta (US$ 32 juta) atau sekitar Rp 288 miliar, setelah mengeluarkan larangan ekspor sapi ke Indonesia.
Kemudian secara sepihak juga pada 6 Juli 2011 Australia mencabut larangan ekspor sapi mereka. Pada tanggal 10 Agustus 2011 sekitar 3.000 sapi hidup Elders mulai dikirim dari pelabuhan Darwin Australia sebagai tanda dimulainya kembali perdangan sapi Australia ke Indonesaia.
(hen/dnl)











































