Sayangnya peralatan penelitian pangan yang Indonesia miliki tak lagi modern. Para peneliti menjadi kesulitan mengembangkan ilmu terbaru yang mereka peroleh dari pendidikan di luar negeri.
Demikian uneg-uneg seorang profesor riset ternak kepada Presiden SBY. Dialog berlangsung di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor, Senin (22/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi uneg-uneg tersebut, Presiden SBY menyatakan siap memenuhinya. Permutahkhiran dilakukan secara bertahap hingga tiga tahun ke depan.
"Sehingga sebelum saya nanti jatuh tempo pada 2014, Insya Allah peralatan riset di sini semua telah diperbaharui," ujar SBY disambut tepuk tangan meriah tiga ratusan peneliti yang hadir.
Sebelumnya oleh Presiden SBY dipaparkan ketahanan pangan merupakan salah satu agenda utama pembangunan. Dalam waktu 10-15 tahun ke depan, diperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan pangan dunia hingga 70 persen dari saat ini.
Sebagai negara dengan sumber daya alam relatif jauh lebih baik dibanding lainnya, Indonesia bisa menjadi pemain penting dunia. Yakni menjadi lumbung kawasan dan bahkan dunia untuk beberapa komuditas pangan.
"Kita sudah ada satu, but we need more. Beras harus surplus. Gula dan kedelai harus ditingkatkan lagi, termasuk produktivitas ternak pangan," urai SBY.
Usai dialog, SBY meninjau ternak hasil pengembangan Balitnak. Di antaranya anakan sapi perah kembar, ayam pedaging Sentul dan bebek potong persilangan varietas Mojosari dengan Peking.
Balai Penelitian Ternak berdiri sejak 1975 dan dibiayai bantuan hibah dari pemerintah Australia. Kunjungan terakhir Presiden RI ke fasilitas penting tersebut adalah pada 1978.
(lh/dnl)










































