Krisis yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa menjadi berkah bagi Asia. Meski ekonominya diprediksi melambat sebagai imbas dari perlambatan ekonomi global, namun Asia siap menjadi 'safe haven' alias surganya investasi.
Menurut Managing Director Chief Asia Pacific Economist and Head of Asia Pacific Market Analysis Citigroup Johanna Chua, Asia yang di dalamnya terdapat banyak negara berkembang harus bersiap untuk menerima arus modal masuk dalam jumlah besar di tahun-tahun mendatang.
"Untuk mengatur arus modal yang masuk pasti akan membuat kepala pusing. Arus modal yang masuk merupakan pelarian dari negara-negara maju, tidak hanya ke emas tapi juga ke obligasi pemerintah," ujarnya dalam diskusi The Premiere Business Leadeship Series, Marina Bay Sands, Singapura, Selasa (23/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu hal yang menjadi tantangan dalam menghadapi arus modal masuk yang diprediksi cukup banyak itu, adalah mengatur kebijakan moneternya. Karena jika tidak ditanggulangi dengan baik maka modal yang masuk tersebut hanya akan mengendap dan akhirnya menjadi sia-sia.
Selama ini, kata Johana, investor lebih memilih berinvestasi di negara-negara maju yang cukup kuat, seperti di Eropa dan AS. Namun, seiring dengan berkepanjangannya krisis di dua wilayah tersebut, investor mulai berpikir untuk mengalihkan sebagian bahkan seluruh dananya dari tempat tersebut.
"Asia akan menjadi safe heaven tak lama lagi, apalagi negara-negara berkembang di dalamnya. Saatnya untuk menyeimbangkan ekonomi pasca krisis Lehman 2008 lalu," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, saat ini investor di dunia masih dihantui oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia serta kekhawatiran masuknya ke masa resesi. Hal tersebut dipicu oleh dipangkasnya peringkat utang dan ancaman masa resesi AS, serta krisis utang di Eropa yang tak kunjung usai.
(ang/dru)











































