Maraknya bencana alam di berbagai belahan dunia pada awal tahun ini berimbas kepada tergerusnya laba maskapai-maskapai asing. Selain itu, tingginya harga bahan bakar juga memberi tekanan negatif.
Pendapatan Air New Zealand jatuh 45% akibat tingginya harga bahan bakar serta bencana alam di Christchurch dan Jepang yang juga menggerus perolehan labanya.
Perusahaan penerbangan ini mengatakan, pendapatan normal sebelum pajak hingga periode 30 Juni adalah NZ$ 75 juta (US$ 62,2 juta), sedangkan laba bersih setelah pajak merosot 1% menjadi NZ$ 81 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bencana alam ini dan kelanjutan harga bahan bakar yang tinggi secara dramatis target yang seharusnya positif selama setahun ini," katanya seperti dikutip dari AFP, Kamis (25/8/2011).
Dia mengatakan perusahaan penerbangan itu mencatat laba bersih sebesar NZ$ 112 juta pada paruh pertama tahun lalu, tetapi menderita kehilangan NZ$ 37 juta di semester II.
Palmer mengatakan, perusahaan penerbangan ini diharapkan diperbaiki kinerjanya tahun ini, dengan syarat tidak adanya koreksi dalam kondisi ekonomi global dan naiknya harga bahan bakar.
Hal yang sama diderita maskapai asal Australia, Virgin Air, yang melaporkan kerugian bersih setahun penuh sebesar A$ 67,8 juta (US$ 70,7 juta). Maskapai tersebut menuding serangkaian bencana alam dan lonjakan harga bahan bakar yang menjadi penyebabnya.
Padahal, pada periode yang sama tahu lalu, yaitu 30 Juni 2010, maskapai asal negeri kangguru itu masih membukukan laba sebanyak A$ 21 juta.
Kinerja buruk Virgin itu kontras dengan saingan utamanya Qantas, yang meraup keuntungan lebih dari dua kali lipat menjadi A$ 250 juta dalam periode yang sama.
Seperti Qantas, Virgin terpukul keras oleh bencana alam, termasuk banjir dan tornado di negara bagian utara Queensland, gempa bumi Christchurch dan awan abu vulkanik Chile, serta biaya bahan bakar jet yang berfluktuasi. Kepala eksekutif John Borghetti mengharapkan kinerja yang lebih baik tahun depan.
"Ada indikasi awal untuk meningkatkan laba pada tahun 2012, dengan hasil perdagangan yang positif di bulan Juli dan terus memperkuat di sektor pemerintah dan perusahaan," kata dikutip dari AFP.
Virgin mencatat rugi bersih sebelum pajak sebanyak A$ 66,6 juta. Maskapai ini juga memiliki kelompok usaha seperti V Australia, Virgin Blue, dan Pacific Blue, dan Blue Polinesia yang beroperasi di luar negeri. (ang/ang)










































