Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Deddy Saleh menyatakan, apabila memang benar akan mengimpor dari kedua negara tersebut pastinya harga sapinya lebih mahal namun lebih baik daripada hanya punya satu sumber negara asal sapi impor yaitu Australia.
"Mungkin kalau dari perkiraan rasional lebih mahal, tapi daripada Australia tiba-tiba distop dan ada masalah persayaratan yang tinggi kita cari alternatif lain," ujarnya ketika ditemui di kantornya setelah solat Jumat (26/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk daging kan sudah bisa jalan tuh, cuma untuk ternak mungkin perlu ada protokol dengan AS. Jadi kita mencari sumber lain, jangan tergantung satu negara gede untuk pasokan ternak. Mereka menyambut baik," tuturnya.
Akan tetapi, lanjut Dedy, keputusan akan menjajaki impor dari kedua negara tersebut baru akan diputuskan pada saat peraturan menteri perdagangan (permendag) diteken setelah lebaran, sekitar minggu kedua bulan Septermber.
"Ya belum lah, permendagnya aja belum ditandatangani. Harusnya sebelum Lebaran. Kira-kira minggu kedua September lah, ada beberapa perubahan," katanya.
Seperti diketahui kementerian yang mengeluarkan izin impor daging ternak akan bergeser dari kementerian pertanian ke kementerian perdagangan. Mengenai waktu transisinya belum bisa dipastikan.
(ade/hen)











































