Kwik: Kenaikan Bunga The Fed Tak Pengaruhi Ekonomi RI
Jumat, 02 Jul 2004 11:56 WIB
Jakarta -
Menneg PPN/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie menegaskan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin yang dilakukan The Fed tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kondisi moneter dan makro ekonomi Indonesia. Pasalnya, tidak ada sebab akibat yang secara konkret menyebabkan kenaikan bunga The Fed berpengaruh besar pada ekonomi Indonesia.Kwik Kian Gie mengungkapkan hal itu usai melantik Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru Choiril Maksum di Gedung BPS, Jakarta, Jumat (2/7/2004)."Kalau menurut saya bunga The Fed yang naik turun tidak bisa dipahami apa pengaruhnya pada ekonomi Indonesia. Saya tidak bisa melihat hubungan klausulnya. Secara konkrit apakah kalau The Fed menaikan suku bunga deposito katakan 0,5 persen berarti orang-orang Indonesia yang menyimpan uang dalam deposito rupiah di bank akan mengalihkan ke dolar AS. Saya tidak melihat klausul itu," kata Kwik.Karenanya Kwik kembali menegaskan naik turunnya The Fed tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap kondisi moneter di Indonesia meski pasar cukup meresponnya. Kwik juga mengaku tidak bisa membayangkan apakah para pemilik dana akan serta merta mengalihkan dananya ke dolar AS yang bunganya jelas lebih kecil dibandingkan suku bunga deposito dalam rupiah.Terkait dengan otoritas moneter Kwik juga menegaskan tidak ada gunanya ikut-ikutan menaikkan suku bunga. BI sebagai otoritas moneter menurutnya memiliki sejumlah instrumen untuk mengendalikan kondisi moneter di Indonesia diantaranya, pertama, dengan menetapkan jumlah uang beredar. Kedua, tingkat bunga yang bisa dinaikkan atau diturunkan dan ketiga operasi pasar untuk menyerap uang beredar yang biasanya dilakukan lewat lelang SBI, surar berharga pasar uang atau menaikan GWM dari bank-bank yang beroperasi di Indonesia.Namun untuk menjaga kondisi moneter, instrumen yang digunakan BI bisa saja diganti dengan kebijakan fiskal. Akan tetapi dengan kondisi BI yang independen, hal itu tidak memungkinkan lagi karena akan selalu terjadi ketegangan antara BI dengan Depkeu."Tapi akhir-akhir ini kita kan selalu melihat adanya hubungan yang erat antara BI dan Depkeu. Ini jelas untuk mengesankan kebijakan fiskal dan moneter berjalan sangat harmonis," ujarnya.Puji SoedartiSementara dalam sambutannya, Kwik secara gamblang memuji mantan Kepala BPS Soedarti Surbakti karena dinilai mampu menyusutkan anggapan bahwa BPS sebagai lembaga pemerintah sering mempolitisir data-data dan informasi yang cenderung tidak obyektif dan bisa untuk mendukung kepentingan pemerintah yang berkuasa."Ini jelas merupakan hasil dari upaya beliau yang kuat serta jajaran BPS untuk mengkonsentrasikan BPS pada fungsi utamanya yaitu menyampaikan informasi yang obyektif dengan kualitas data yang lebih baik dan didukung dengan metode pengumpulan data yang lebih transparan," ungkap Kwik.Karenanya Kwik berpesan kepada Kepala BP yang baru yakni Choiril Maksum agar melanjutkan upaya yang sudah ditempuh Soedarti. Menurut Kwik, statistik adalah hal yang sangat penting mengingat pengumpulan data dan informasi memegang peranan penting dalam pembangunan nasional dan menjadi kunci dalam pengambilan keputusan."Pengambilan keputusan yang didasarkan atas data dan informasi yang akurat dapat menghasilkan keputusan yang tidak menyelesaikan masalah dan tidak mustahil dapat menimbulkan permasalahan baru," katanya.Oleh karena itu, ke depan akan banyak tantangan yang dihadapi BPS diantaranya dalam membantu Pemda mendapatkan gambaran yang sebenarnya mengenai permasalahan yang dihadapi masing-masing daerah serta menemukan potensi daerah yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan. Berbagai data dan informasi harus tersedia di daerah agar aliran dana dapat dimanfaatkan secara optimal."Karena itu saya berharap dalam proses memantapkan otonomi dan desentralisasi ini BPS melakukan langkah aktif bagi Pemda untuk menyusun kebijakan yang tepat," ujarnya.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































