"Kepala BKPM (Gita Wirjawan) cengeng dia menyesalkan investasi BlackBerry (BB) di Malaysia, padahal BB hanya persoalan kecil dari yang sedang kita hadapi dan harus diselesaikan. Misalnya soal sumber daya alam yang harus dikelola dengan baik. Saya lihat ada frustasi Gita," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur kepada detikFinance, Minggu (11/9/2011).
Natsir menuturkan seharusnya sebagai Kepala BKPM, Gita tak perlu menyesalkan hal-hal semacam itu. Yang perlu dilakukan adalah melakukan pembenahan dalam hal investasi agar investasi yang sudah masuk atau akan masuk bisa terealisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya saat ini pemerintah harus fokus membenahi persoalan daya saing yang faktanya mengalami penurunan dari 44 menjadi 46. Sementara Malaysia justru naik pesat dari 26 menjadi 21 versi World Economic Forum (WEF).
"Kita harus segera benahi persoalan-persoalan lama seperti listrik, infrastruktur, tingginya bunga bank. Persoalan baru juga semakin bertambah misalnya soal logistik seperti masalah Regulated Agent (RA), koordinasi menteri satu sama lain, egoisme sektoral masih kenceng, menteri perdagangan terlalu liberal membuka perdagangan kita," tegas Natsir.
Sebelumnya, Kepala BKPM Gita Wiryawan mengaku kecewa karena RIM justru membangun pabriknya di Malaysia. Untuk itu, dirinya meminta pemerintah untuk menyikapi hal tersebut, salah satunya dengan pemberlakuan disinsentif seperti tarif perpajakan.
"Kita harus mempertimbangkan penyikapan fiskal (disinsentif fiskal) untuk perusahaan yang tidak niat memproduksi produknya (di Indonesia) yang dikonsumsi dengan skala yang besar. Mengingat penjualan mereka (BB) akan mencapai 4 juta unit, US$ 300 per unit. Total penjualan mencapai US$ 1,2 miliar (Rp 10 triliun), tapi kok malah membangun pabriknya di Malaysia," ucap Gita beberapa waktu lalu.
(hen/wep)










































