"Kita dalam posisi siaga menghadapi kekeringan," kata Suswono kepada detikFinance, Selasa (13/9/2011)
Namun sayangnya Suswono mengaku belum mendapat laporan persis lokasi mana saja lahan-lahan sawah yang mengalami dampak kekeringan. Hingga kini pihaknya masih menunggu peran aktif melalui laporan pemerintah daerah yang lahan pertaniannya mengalami kekeringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan bantuan itu adalah bantuan tunai yang diberikan kepada petani yang mengalami gagal panen termasuk dampak dari kekeringan. Antara lain bantuan pupuk Rp 1,1 juta per hektar, bantuan pengolahan lahan Rp 2,6 juta per hektar.
"Saya belum mendapat laporan dari Dirjen Sarana Pertanian. Saya sudah minta pendataan dan percepatan laporan," katanya.
Meskipun ia memastikan untuk kawasan pertanian yang sudah menggunakan irigasi teknis tak ada masalah. Justru yang menjadi masalah, dalam kondisi kemarau ini adalah sawah-sawah yang bergantung tadah hujan.
Berdasarkan hasil kunjungannya ke lapangan seperti ke Cirebon dan Cikampek, ia memastikan kondisi irigasi sawah masih berfungsi sehingga bisa digunakan untuk pengairan sawah.
Suswono mengaku musim kemarau sekarang ini sudah diperkirakan sebelumnya. Namun dari laporan yang ada pada bulan Oktober nanti akan ada peluang musim hujan kembali.
"Memang menurut BMKG sekarang ini sudah musim kemarau tetapi BMKG tak menentukan kepastiannya, perkiraan Oktober akan ada hujan lagi," tegasnya.
Disisi lain, lanjut Suswono, masuknya musim kemarau justru keuntungan bagi jenis sawah lebak. Susutnya kondisi air di sawah lebak akan memberikan potensi ada tambahan penanaman sawah hingga 300.000 hektar.
(hen/dnl)











































