BI mencatat dari sejumlah 320 perusahaan go public rata-rata utangnya mencapai US$ 8 miliar.
"Posisi utang luar negeri atau foreign debt kita. Pemerintah dan swasta, so far masih prudent," ungkap Peneliti Utama Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Suhaedi, disela seminar CSIS di Kantor CSIS, Jakarta, Selasa (13/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari 320 perusahaan go public kira-kira memiliki pinjaman U$ 8 miliar. Dari kinerja keuangannya dengan provitability, liquidity, interest coverage ratio, dan juga melalui perhitungan probability of default kita lihat kemungkinan potensi default itu menunjukkan kondisi yang belum mengkhawatirkan," paparnya.
Lebih jauh Suhaedi mengatakan pesan penting dari utang luar negerii adalah sewaktu terjadinya krisis 1997/1998.
"Ini memberi pelajaran bahwa kehati-hatian lebih diutamakan dalam pinjaman. Apabila tercermin dalam perilaku utang luar negeri perusahaan-perusahaan yang sudah go public, maka mudah-mudahan kegagalan perusahaan yang berdampak gagal bayar bisa ditangani dengan lebih baik," jelasnya.
Data terakhir Kementerian Keuangan menyatakan total utang pemerintah Indonesia hingga Juli 2011 mencapai Rp 1.733,64 triliun. Dalam sebulan utang pemerintah naik Rp 9,5 triliun dibanding Juni 2011 yang sebesar Rp 1.723,9 triliun.
Jika dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga Juli 2011 bertambah Rp 56,79 triliun.
Dan jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga Juli 2011 mencapai US$ 203,77 miliar. Naik dibandingkan per Juni 2011 yang sebesar US$ 200,52 miliar. Utang dalam dolar AS ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar.
(dru/dnl)










































