RI Masih Tetap Atraktif di Mata Investor Asing

Laporan dari Berlin

RI Masih Tetap Atraktif di Mata Investor Asing

- detikFinance
Rabu, 14 Sep 2011 04:22 WIB
RI Masih Tetap Atraktif di Mata Investor Asing
Berlin - Meskipun krisis membayangi perekonomian dunia, namun Indonesia dinilai tetap atraktif dan masih diperhitungkan oleh investor asing.

Demikian kesimpulan dari keynote address Ketua BKPM Gita Wirjawan dan sambutan Dubes RI untuk Republik Federal Jerman Dr. Eddy Pratomo dalam Indonesian Business Day di Haus der Commerzbank, Berlin, Jumat malam atau Sabtu (10/9/2011) WIB.

Dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai sekitar 6,5% tahun ini, Indonesia masih tetap dipercaya oleh investor asing untuk menjadi tempat menanamkan modal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia, yang kini anggota 20 kekuatan ekonomi dunia (G20), memiliki statistik ekonomi yang baik, dengan indikator debt to GDP ratio sebesar 26%, jauh lebih baik dari China yang sekitar 60%,

Selain itu kebijakan moneter Indonesia juga dinilai sangat baik, di mana kenaikan suku bunga hanya sekali dalam beberapa tahun terakhir ini (6,5%-6,75%), suatu hasil kebijakan yang tidak mampu ditunjukkan oleh negara-negara lain di Asia Tenggara.

Seperti disampaikan Konselor Fungsi Pensosbud Ayodhia G.L. Kalake kepada detikfinance, kondisi ekonomi positif, stabilitas nasional, pemberantasan korupsi dan hambatan birokrasi serta faktor pendukung lainnya menjadi pertimbangan masuk investor asing.

Apalagi posisi Indonesia menurut Global Competitiveness World Report juga cukup baik yakni menempati urutan 46 dari 160 negara.

Tumbuh 7,5%

Dirjen Kerjasama Internasional Kementerian Perindustrian Agus T. Wira Kusuma dalam paparannya menyampaikan bahwa dalam 5 tahun terakhir, industri otomotif Indonesia mencapai pertumbuhan 7,5% per tahun.

"Ini merupakan pertumbuhan tertinggi di antara sub-sektor industri lainnya di Indonesia," ujar Dirjen.

Dikatakan, Indonesia menargetkan dalam rentang 2013-2014 akan memproduksi 1 juta unit kendaraan bermotor.

Selanjutnya diproyeksikan pada tahun 2040 Indonesia akan memiliki pasar kendaraan bermotor sebesar 250 unit/1000 jiwa, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sementara itu Gunadi Sindhuwinata dari swasta menambahkan bahwa industri otomotif berkontribusi sebesar 26% terhadap pendapatan nasional Indonesia.

Menurut Gunadi, pada tahun 2010 pasar kendaraan bermotor roda empat akan mencapai sebesar 2,3 juta unit di keseluruhan pasar ASEAN. Sedangkan untuk kendaraan bermotor roda dua, total besaran pasar di ASEAN mencapai 10,3 juta unit.

Posisi Jerman

Dirjen menambahkan bahwa Jerman merupakan produsen produk-produk permesinan kelas satu yang dibutuhkan oleh Indonesia. Sebaliknya untuk ekspansi usaha, Indonesia merupakan pilihan tempat yang tepat.

"Produk permesinan merupakan salah satu dari 5 barang impor terbesar di Indonesia dan impor permesinan dari Jerman mencapai USD 1 miliar atau 40% dari total keseluruhan impor produk permesinan dari UE," jelas Dirjen.

Pada kesempatan sama, Chairman of Berlin-Indonesia Business Council Prof. Dr. Ing. Kai Mertins mengatakan bahwa Indonesia selama satu dasawarsa seolah-olah luput dari perhatian radar kalangan pebisnis Jerman.

"Namun dalam 3 tahun terakhir Indonesia telah berubah menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi positif dan diminati sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki potensi bisnis tinggi," demikian Mertins.
(es/es)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads