"Pengadaan (serapan beras petani) setiap hari rata-rata 4.500 ton, itu sebenarnya relatif, mungkin karena masalah harga, relatif sedikit lebih baik dengan tahun 2010 tetapi masih rendah dari 2008 dan 2009, rata-rata harian," kata Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso di Istana Negara, Rabu (14/9/2011)
Sutarto juga mengatakan dengan adanya musim kering kondisi serapan bisa berpeluang dari angka-angka tadi. "Makin lama kemungkinan begitu, tapi kalau ada yang berspekulasi mudah-mudah keluar. sekarang ini kan spekuali untuk apa," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga swasta lebih tinggi, Bulog kurang serapannya. Lebih banyak serapan swasta, Bulog hanya 5% sampai 10%, 90% swasta," kata Ayong kepada detikFinance.
Ayong mengatakan saat ini beras yang ada di Bulog lebih banyak adalah beras impor. Meskipun jumlahnya secara bertahap akan berkurang karena disalurkan untuk beras miskin (raskin) setiap bulannya sebanyak 200.000 ton lebih,
Dikatakannya harga beras internasional saat ini lebih murah 30% dibandingkan dengan harga beras dalam negeri. Sehingga tak mengherankan jika beras impor cukup menggiurkan.
"Gabah di sana beras Thailand sampai di pelabuhan Indonesia Us$ 600 per ton, kalau kurs Rp 9.000/dolar AS saja baru Rp 5.000 per Kg sampai di Indonesia. Harga beras kita lebih mahal 30% dari beras negara tetangga karena biaya produksinya tak efisien," jelas Ayong.
(hen/dnl)











































