Agus Marto: Meski Nominal Naik, Tapi Rasio Utang RI Turun

Agus Marto: Meski Nominal Naik, Tapi Rasio Utang RI Turun

- detikFinance
Rabu, 14 Sep 2011 17:22 WIB
Agus Marto: Meski Nominal Naik, Tapi Rasio Utang RI Turun
Jakarta - Pemerintah mengakui belum bisa lepas dari ketergantungan utang di tahun depan. Meski jumlah nominal utang terus naik, pemerintah menyatakan rasio utang Indonesia terhadap PDB terus turun.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Agus Martowarojo dalam rapat dengan Komisi XI DPR yang dilakukan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/9/2011).

"Meskipun jumlah nominal bertambah, tapi rasio utang terhadap PDB semakin menurun dan saat ini rasio utang Indonesia jauh lebih rendah dibanding rasio utang negara maju, misalnya AS sekitar 100% (dari PDB) dan Jepang di atas 200%," pungkasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus mengatakan, pemerintah belum berniat melakukan moratorium utang atau menghentikan utang. Menurut mantan Dirut Bank Mandiri ini, kebijakan moratorium utang dapat membentuk persepsi gagal bayar (event of default) di kalangan investor dan lembaga rating.

"Moratorium membentuk persepsi investor/kreditor dan lembaga rating sebagai event of default oleh Pemerintah," ujar Agus.

Selain itu, lanjut Agus Marto, hal tersebut dapat memicu cross default untuk semua utang yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya pengadaan utang di masa yang akan datang.

Agus Marto menjelaskan adanya penambahan utang tahun disebabkan karena masih adanya defisit anggaran serta jumlah kebutuhan pendanaan utang lama di 2012 yang cukup besar.

Seperti diketahui, tahun depan pemerintah Indonesia berencana mencari utang Rp 191,4 triliun untuk membiayai anggaran yang rencananya bakal defisit sebesar Rp 125,6 triliun.

Penarikan/penerbitan utang tersebut akan dipenuhi melalui penerbitan surat utang neto Rp 134,6 triliun, penarikan pinjaman proyek Rp 39,1 triliun, penarikan pinjaman program Rp 16,9 triliun, dan penarikan pinjaman dalam negeri neto Rp 860 miliar.

Pemenuhan kebutuhan pembiayaan melalui utang akan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai faktor diantaranya biaya dan risiko utang, perkembangan kondisi pasar keuangan, kapasitas daya serap pasar SBN, country ceiling/single country limit masing-masing lender, dan kebutuhan kas negara.

Data terakhir Kementerian Keuangan menyatakan total utang pemerintah Indonesia hingga Juli 2011 mencapai Rp 1.733,64 triliun. Dalam sebulan utang pemerintah naik Rp 9,5 triliun dibanding Juni 2011 yang sebesar Rp 1.723,9 triliun.

Jika dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga Juli 2011 bertambah Rp 56,79 triliun.

Dan jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga Juli 2011 mencapai US$ 203,77 miliar. Naik dibandingkan per Juni 2011 yang sebesar US$ 200,52 miliar. Utang dalam dolar AS ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads