Misalnya di tempat wedangan atau angkringan atau yang di Solo lebih akrab disebut hik, wedang jahe adalah salah satu favorit pembeli, untuk menghangatkan badan di malam hari.
Maklum saja, kurang lengkap membicarakan Solo tanpa menyebut warung wedangan ini yang telah menjadi ciri khas malam hari di kota batik itu. Namun beberapa pekan terakhir, suasana hik ikut terganggu harga jahe yang melonjak lebih dari lima kali lipat harga biasanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jahe impor dari Thailand atau yang biasa disebut jahe gajah karena ukurannya yang besar-besar, memang membanjiri pasaran. Namun ternyata jenis jahe tersebut tidak banyak diminati pembeli, meskipun harganya relatif lebih murah dibanding harga jahe lokal.
"Tidak banyak yang membeli jahe gajah. Pedagang-pedagang wedangan tidak begitu suka dengan jahe gajah. Alasannya rasanya tidak sesedap jahe lokal atau jahe emprit. Padahal pembeli jahe kebanyakan para pedagang wedangan itu. Untuk kebutuhan rumah tangga tidak seberapa besar," ujar Tari, salah satu pedagang di Pasar Legi, Solo, Kamis, (15/9/2011).
Para pedagang menduga kelangkaan jahe di pasaran selain karena faktor kekeringan di musim kemarau, juga karena maraknya sektor industri obat atau minuman herbal. Dimungkinkan para pengusaha obat-obatan atau minuman herbal itu melakukan aksi borong jahe lokal langsung dari petani, sebelum jahe itu masuk ke pasar.
Sedangkan para pedagang hik di Solo tetap ada yang bertahan menjual wedang jahe karena memang permintaan pembeli. Pedagang yang tetap menjual dengan terpaksa memilih menaikkan harga per gelasnya. Para pembeli memilih membayar lebih daripada kualitas rasanya wedang jahenya dikurangi.
Namun demikian tak sedikit pula yang untuk sementara menghentikan penjualan wedang jahe. "Sementara tidak jualan dulu. Harganya benar-benar tidak terjangkau. Sangat sulit bagi kami untuk menjualnya dalam bentuk sajian wedang jahe," ujar Surono salah satu pedagang hik.
(mbr/hen)











































