Biaya Logistik di Indonesia Masih Termahal

Biaya Logistik di Indonesia Masih Termahal

- detikFinance
Kamis, 15 Sep 2011 15:06 WIB
Biaya Logistik di Indonesia Masih Termahal
Jakarta - Peringkat Indeks Logistik Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Salahnya satunya karena biaya logistik di Indonesia termasuk yang termahal yaitu sebesar 24%.

Dirut PT Pelindo II RJ Lino mengakui saat ini sistem logistik di pelabuhan dalam negeri masih jauh tertinggal dari negara lain. Tahun ini peringkat indeks logistik Indonesia berada pada urutan ke-75.

Sementara jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti, Singapura, peringkat tersebut sangat jauh tertinggal, Negara Singa itu sudah menempati posisi kedua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu logistik performa indeks ini nomor 75 jauh jika dibanding Singapura itu nomor dua, di bawah Malaysia, di bawah Thailand," ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (15/9/2011).

Menurut Lino, hal tersebut terjadi karena belum transparannya informasi terkait barang-barang yang dikirim eksportir saat di pelabuhan.

"Sekarang ini di logistik kita terpisah-pisah ya, sehingga jaminan customer kita bahwa barang yang dikirim itu dimana itu nggak ada, kalau kirim barang ke Indonesia, masuk pelabuhan, jadi black box. Nah ini nggak boleh, karena di dunia di mana-mana sudah canggih kita saja masih ketinggalan," ujarnya.

Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan proses ekspor impor di Indonesia masih terbilang tinggi sekitar 24% dari GDP (gross domestic bruto) . Sementara Malaysia hanya 15% dan Jepang 10%

"Terkait dengan cost, itu logistic cost kita tuh kurang lebih sekitar 24%, sedangkan Malaysia 15%, Amerika dan Jepang 10%," ungkapnya.

Begitupun dengan masa jeda barang, di Indonesia waktu jeda barang-barang impor itu bisa 5,5 hari. Hal ini membuat Indonesia tidak kompetitif jika dibandingkan dengan Amerika yang memiliki jeda waktu sekitar 1,2 hari, Rotterdam Belanda 1,1 hari, dan Singapura kurang dari 1 hari.

Untuk itu, tambah Lino, pihaknya mengharapkan dengan program Indonesia Logistic Community Services (ILCS) dapat membantu menekan semua permasalahan tersebut. Dengan menggandeng PT Telkom, Tbk, program ini bisa membuat sistem secara online sehingga biaya bisa ditekan semaksimal mungkin serta waktu pengurusan pun bisa dipersingkat.

"Kita harapkan dan ini logistik cost kuta bisa ditekan dan indeks prestasi kita dapat membaik," tegasnya.

Selain itu, biaya yang tinggi akibat adanya preman pelabuhan pun bisa dikurangi.

"Itulah ILCS itu dikembangkan karena orang itu pakai orang "tengah". Masih banyak yang pakai orang tengah. Banyak yang punya kontainer itu tidak mau datang ke Priuk. Dengan ini bisa langsung, dengan sendirinya orang tengah itu akan hilang. Itu karena sistemnya tidak ada. Sehinggga orang kirim barang gak tau kapan barangnya keluar dan berapa biayanya orang itu bisa tahu dengan itu, masih di mana," ujarnya.

Dengan demikian, minimal biaya ekspor impor negara bisa ditekan menjadi 15%. Diharapkan paling tidak seperti Malaysia dalam 3-4 tahun ke depan.


(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads