Menurut Hatta, delegasi justru kebanyakan berasal dari kalangan dunia usaha. Sehingga kalaupun anggota delegasi 'gemuk', kebanyakan dari wakil dunia usaha.
"Tidak, kok sampai 200 orang, masa? Kalau pejabat sampai 200 itu tidak, yang terbanyak itu dunia usaha, karena APEC itu kaitannya sama dunia usaha pasti," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (16/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang dibahas dalam tingkat ministerial meeting masih tetap berkaitan dengan bagaimana pertama, bicara tentang energi security dan masa dengan tengan energi terbarukan," jelasnya.
"Kedua, bagaimana kita melakukan penghematan terhadap energi fosil yang terkait dengan konservasi dan juga terkait juga dengan diversifikasi dan sebagainya dan juga penggunaan-penggunaan teknologi emergency." tambahnya.
Sementara untuk transportasi, Hatta menyatakan pembahasan APEC terkait dengan teknologi transportasi dalam rangka penghematan energi dan ramah lingkungan.
"Misalkan kita sudah harus berbicara kepada negara-negara maju agar mendesain teknologi-teknologi transportasi yang ramah lingkungan, yang murah, yang tidak terlalu boros terhadap energi fosil. Jadi lebih kepada bagaimana di APEC itu negara-negara maju itu tidak hanya katakanlah berbicara dari segi teknologi tapi juga masalah-masalah yang terkait juga intelektual, poverty line, itu memberatkan bagi negara-negara yang berkembang," ujarnya.
Fokus Indonesia, lanjut Hatta, adalah terkait energi baru terbarukan. Pasalnya, pihak Indonesia sekaligus menjual sumber daya di sektor itu ke negara-negara anggota.
"Tentu konteks Indonesia adalah energi terbarukan. kita kan jualan kita banyak, msalah itu masalah geotermal, energi terbarukan, teknologi bersih, teknologi transportasi, banyak lah itu," pungkasnya.
(nia/qom)











































