Sebagian Karyawan Masih Demo, Freeport Beroperasi Terbatas

Sebagian Karyawan Masih Demo, Freeport Beroperasi Terbatas

Akhmad Nurismarsyah - detikFinance
Sabtu, 17 Sep 2011 17:01 WIB
Sebagian Karyawan Masih Demo, Freeport Beroperasi Terbatas
Jakarta - Seiring sudah mulai kembalinya sejumlah karyawan ke tambang PT Freeport Indonesia ke Tembagapura, Timika, Papua, kini tambang milik perusahaan Amerika tersebut sudah bisa beroperasi terbatas. Namun demikian, aksi demo masih berlanjut.

Demikian diungkapkan Juru Bicara PT Freeport Indonesia, Ramdani Sirait kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (17/9/2011).

"Jadi, seiring datangnya sebagian karyawan yang sudah kembali ke tambang Freeport, maka kita sudah mulai beroperasi lagi dan berproduksi," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, meski sudah mulai beroperasi, diakuinya tambang tersebut belum bisa berproduksi secara optimal. "Karyawan yang kembali ke Tembagapura sudah mulai bekerja, jadi kegiatan tambang sudah beroperasi lagi, tapi belum optimal," terang Ramdani.

Dirinya juga menjelaskan, kegiatan tambang underground (bawah tanah) di Freeport pun sudah mulai bisa dilaksanakan kembali.

Seperti diketahui, total karyawan PT Freeport yang mulai naik dari Timika ke Tembagapura sampai hari ini sudah berjumlah 656 karyawan dengan menggunakan 15 bus pengangkut. Sempat dikabarkan, kegiatan tambang dikabarkan kegiatan tambang di sana masih belum berjalan.

Sebelumnya, aksi demo yang dilakukan ribuan karyawan Freeport di sana memang membuat kegiatan operasional tambang berhenti. Mereka berduyun-duyun meninggalkan lokasi tambang.

Diperkirakan, dengan adanya aksi tersebut,terjadi penurunan penjualan perusahaan hingga US$ 19 juta per hari. Lalu, pemerintah juga bisa kehilangan penerimaan bagi negara yang mencapai US$ 6,7 juta per hari jika kegiatan tambang berhenti.

Sampai saat ini, proses pencarian jalan tengah antara pihak Manajemen Freeport beserta serikat karyawan masih terus digodok dan dimediasi oleh pihak Kemenakertrans.

Pihak Freeport mengaku dan berjanji berupaya untuk menyelesaikan masalah pemogokan dan memberi segala kompensasi yang terbaik bagi karyawan.

(nrs/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads