Pengusaha Nilai Krisis Global Sekarang Lebih Berat dari 2008

Pengusaha Nilai Krisis Global Sekarang Lebih Berat dari 2008

- detikFinance
Selasa, 20 Sep 2011 18:15 WIB
Jakarta - Ada pandangan perbedaan yang mendasar antara krisis global saat ini dengan krisis 2008 lalu memiliki bobot yang berbeda. Di 2008 lalu krisis terjadi karena bangkrutnya perusahaan-perusahaan keuangan dunia, namun kali ini yang bangkrut adalah negara.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Selasa (20/9/2011).

"Saya melihat sebagai pengusaha bahwa krisis itu akan sangat berat dibanding 2008. Karena masalah yang paling utama itu yang krisis itu negara, dulu kan yang krisis sektor keuangan yang dimulai dengan Lehman Brother, itu perusahaan itu bisa ditutup semua, tetapi kalau negara kan nggak bisa ditutup," katanya

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan seperti pola krisis sebelumnya akan terjadi proses merembet dari sektor keuangan ke sektor riil. Indonesia dipastikan terkena imbas dari sisi permintaan pasar ekspor terutama dari Eropa.

"Kita bisa lihat rupiah kita melemah. Karena krisis yang di Yunani itu saya pikir tidak bisa bayar dan default. IMF dan Euro tidak membantu dia. Bagaimana kita kalau dia default. Kalau Yunani kena, bank-bank dari Prancis sudah kena, langsung turun harganya 8 persen segala macam," katanya.

Menurutnya solusi yang paling ampuh dari krisis saat ini dan kedepannya adalah menguasai pasar dalam negeri. Selain itu, terus mendorong infrastruktur di Indonesia agar geliat ekonomi bisa lebih tinggi.

Sofjan mengakui pertemuan kali ini merupakan pertemuan terbuka antara pengusaha dengan presiden. Pada kesempatan tersebut pengusaha menyampaikan uneg-uneg mereka termasuk kelemahan di pemerintahan pusat dan daerah.

"Dijanjikan akan bertemu 3 bulan sekali, kita bersama-sama hadapi krisis ini dan bagaimana kita kalau investasi luar negeri karena krisis ini terhambat atau tertunda. Kita dalam negeri harus investasi," katanya.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads