Hal ini diungkapkan olehnya ketika ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (21/9/2011).
"Banyak yang ramal seperti itu, beberapa kali banyak yang keliru. Ada yang perkirakan ekonomi kita melambat, masukan itu kita harus cermati jangan buat kita jadi gamang. Kita jaga momentum agar pertumbuhan tidak turun," imbuh Hatta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang bisa saja terjadi penurunan pada ekspor karena lambatnya pertumbuhan eropa yang paling volatile, tapi itu akan berimbas tidak langsung kalau China dan India kena, ekspor kita terganggu," jelasnya.
Maka itu, menurutnya daya produksi RI tidak boleh berhenti, harus mendurung pasar dalam negeri, memperbaiki tata niaga, dan power purchasing harus dijaga.
"Memang ini lebih disebabkan oleh kondisi di Eropa, masih mengalami persoalan terhadap perbankan. Kita lihat di Perancis beberapa perbankan mengalami persoalan likuiditas, jadi Dollar menguat. Tapi saya berkeyakinan ini tidak berkaitan dengan fundamental ekonomi kita," yakin Hatta.
Menurutnya, dalam kondisi seperti ini pun keadaan dan kinerja pasar modal RI masih menjadi yang terbaik. Hatta mengimbuhkan agar pasar modal dalam negeri perlu diperbanyak emitennya agar melantai di bursa, termasuk juga dengan BUMN. "Kita perbaiki kinerjanya, perbaiki keuangannya," pintanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan II dan III tumbuh sebesar 6,5%. Untuk triwulan IV-2011, perekonomian RI diprediksi naik menjadi 6,6% karena adanya puasa dan lebaran yang mendorong daya beli masyarakat.
(nrs/qom)










































