Hal ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa ketika ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (22/9/2011).
"Ada sejumlah alasan saya kita tidak perlu panik karena pertama kondisi fundamental ekonomi kita, kinerja pasar modal relatif terbaik kalau kita ukur artinya persoalan ini adalah persoalan global dimana ada kekhawatiran yang berlebihan dari para pelaku terhadap tren kemungkinan terjadinya penurunan pertumbuhan," tutur Hatta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu alasan kedua Indonesia telah mempersiapkan kebijakan antisipasi yang cukup baik dengan berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI). Pemerintah menyiapkan juga dana untuk stabilisasi surat utang.
"Ketiga, saya melihat daya beli masyarakat kita cukup baik, sehingga kita tetap keep buying kepada pasar domestik kita dan bahwa yang namanya capital itu flight to quality," jelasnya.
Meski begitu, Hatta mengatakan pemerintah tidak mau meremehkan perkembangan situasi ekonomi global dan tetap waspada.
"Dan kita punya pengalaman buruk sekali di tahun 1998 dan pengalaman cukup baik di tahun 2008. Dan kita pada waktu itu 10 respons yang dikeluarkan presiden masih relevan dengan situasi-situasi seperti ini," jelasnya.
"jadi jangan terlalu panik. Ibaratnya kita tidak membentangkan payung saat tidak hujan tapi payung itu sudah ada di sebelah kita," katanya.
Seperti diketahui, mengikuti anjloknya pasar saham global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (22/9/2011) pukul 10.50 waktu JATS tercatat merosot hingga 180,846 poin (4,89%) ke level 3.516,648. Ini adalah posisi terendah IHSG sepanjang tahun ini.
Sementara nilai tukar rupiah masih tenang di posisi 8.950 per dolar AS berkat 'penjagaan' ketat dari Bank Indonesia. Namun untuk Non Deliverable Forward (NDF) rupiah terhadap dolar AS sudah di posisi Rp 9.300. NDF merupakan produk derivatif valas yang diperdagangkan secara over the counter.
(dnl/qom)










































