"Penurunan harga emas dan terutama mengakibatkan harga saham Antam jatuh hanya karena pasar syok. Kami tetap khawatir, tapi kami optimistis komoditi masih akan menunjukkan kinerja bagus tahun ini," ungkap Alwin ketika ditemui di Gedung BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (23/9/2011).
Menurutnya sejak awal tahun fluktuasi memang terjadi baik di pasar saham maupun komoditi memang ada. Namun harga khusus emas tetap dinilai tahan krisis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh Alwin mengungkapkan Antam berencana untuk menerbitkan obligasi tahun ini dan meneruskan rencana ekspansi di tengah krisis global dan menurunnya harga emas.
"Kedua hal itu tidak akan mengganggu rencana penerbitan obligasi dan ekspansi karena sudah kami alokasikan sejak awal," paparnya.
Paling cepat pada November mendatang ANTM akan menerbitkan obligasi tahap I senilai US$ 150 juta. "Total obligasi yang akan kami terbitkan Rp 4 triliun. Tapi untuk tahap awal senilai sekitar Rp 1,5 triliun-Rp 2 triliun," tuturnya.
Dana yang terhimpun akan digunakan untuk membiayai proyek Feronikel (FeNi) di Halmahera Timur. Proyek ini bertujuan meningkatkan nilai tambah cadangan nikel melalui kegiatan pengolahan. Kapasitas produksi proyek tersebut adalah 27.000 ton nikel dalam feronikel.
Seperti diketahui memuncaknya kekhawatiran terjadinya resesi global selain menjatuhkan pasar saham juga menjatuhkan harga-harga komoditas. Harga emas yang selama ini dinilai 'tahan banting' ikut merosot. Harga emas di pasar spot ambles lebih dari 3% menjadi US$ 1.721 per ounce, atau merupakan harga terendah dalam 1 bulan.
(dru/hen)











































