Mendag Yakin RI Bisa Tahan Krisis dengan 3 Langkah Antisipasi

Mendag Yakin RI Bisa Tahan Krisis dengan 3 Langkah Antisipasi

- detikFinance
Senin, 26 Sep 2011 17:09 WIB
Mendag Yakin RI Bisa Tahan Krisis dengan 3 Langkah Antisipasi
Jakarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu meyakini perekonomian Indonesia bisa tahan krisis dengan penerapan 3 langkah antisipasi. Ia juga meyakini ekspor Indonesia tetap bisa mencapau US$ 200 miliar pada tahun ini.

Tiga langkah antisipasi tersebut adalah diversifikasi pasar ekspor, penguatan daya saing produk Indonesia dan penguatan pasar dalam negeri.

"Tiga langkah ini akan semakin diperkuat dan menjadi fokus kita dalam mengantisipasi dampak krisis terhadap perdagangan dunia," ujar Mari dalam konperensi pers di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta, Senin (26/9).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk langkah diversifikasi pasar, Mari mengaku upaya tersebut sudah membuahkan hasil. Namun menurutnya, meski laju pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara emerging market semakin besar dan, melebihi pertumbuhan ekspor ke pasar-pasar tradisional seperti Jepang dan AS, pasar-pasar tradisional tetap harus dijaga.

Diakuinya, krisis ekonomi global juga akan berdampak kepada pasar negara berkembang RRT, India dan Korea Selatan, sehingga upaya diversifikasi pasar perlu digalakkan. Di luar Asia, Indonesia tengah meningkatkan penetrasi ke beberapa negara di Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin serta Rusia. Ekonomi negara-negara tersebut diperkirakan tetap akan mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi ke depan.

"Yang penting adalah bagaimana kita lebih fokuskan lagi berupaya mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk menembus pasar-pasar potensial," ujarnya.

Terkait langkah kedua untuk peningkatan daya saing, Mari menegaskan hal itu dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekspor Indonesia yang masih cukup tinggi ke pasar AS dan Eropa dan tetap perlu dipertahankan.

Meski perekonomian AS sedang mengalami krisis, ekspor nonmigas Indonesia ke negeri Paman Sam ini masih tetap tumbuh signifikan. Selama periode Januari-Juli 2011, ekspor ke AS mencapai US$ 9,3 miliar atau naik sebesar 23,1%. Begitu juga ekspor ke Uni Eropa juga mengalami peningkatan sebesar 34,6% menjadi US$ 12,3 miliar pada periode yang sama.

Dalam rangka peningkatan daya saing untuk jangka pendek melalui Forum Ekspor yang merupakan bagian dari Pokja Ekspor (Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Investasi) akan terus memprioritaskan mengatasi berbagai hambatan dan 'high cost economy' yang dialami eksportir/pengusaha.

Disamping itu, upaya diversifikasi produk ekspor dan peningkatan nilai tambah dari ekspor akan terus digalakkan. Isu efisiensi logistik dan konektivitas yang mempengaruhi daya saing maupun disparitas dan fluktuasi harga bahan pokok, juga menjadi prioritas dibawah Pokja Konektivitas dibawah Tim Nasional KP3EI.

Terkait dengan penguatan pasar dalam negeri, Mari menekankan hal ini juga perlu menjadi prioritas mengingat dengan populasi 245 juta jiwa, Indonesia adalah pasar yang besar dan potensial. Hal ini telah dan akan terus menjadi kekuatan Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian perekonomian global. Daya beli masyarakatnya pun meningkat seiring dengan pertumbuhan PDB yang relatif lebih tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

"Jika kita mampu memanfaatkan pasar dalam negeri, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap terjaga. Tidak dapat dipungkiri, Indonesia berhasil melewati krisis 2008 karena tingginya konsumsi dalam negeri (domestic consumption)," katanya.

Untuk itu, Kemendag menyikapi dengan program pengamanan pasar dalam negeri yang tepat serta promosi peningkatan mutu dan pengunaan produk dalam negeri. Dari sisi pengamanan pasar dalam negeri dari persaingan yang tidak sehat sudah banyak langkah yang dilakukan, diantaranya melalui penyempurnaan pengaturan anti dumping/safeguard,pengetatan dan implementasi labeling dan standar produk, dan perllindungan konsumen.

Sedangkan upaya untuk meningkatkan mutu dan standar kualitas produk dalam negeri akan terus dilakukan, termasuk dengan mengoptimalkan gerakan 100% Cinta Indonesia (ACI) yang telah diluncurkan sejak 2009 lalu. Tingkat apresiasi dan rasa bangga sudah mulai berdampak terhadap penggunaan produk dalam negeri (batik, fesyen, sepatu, makanan), dan akan terus dilanjutkan sehingga makin meluas.

Dengan diberlakukannya ketiga langkah tersebut, lanjut Mari, perdagangan luar negeri Indonesia bisa terjaga dari dampak krisis global. Dia optimis tisperdagangan bisa mencapai US$ 200 miliar hingga akhir tahun ini.

"Pemerintah akan terus menyusun dan melaksanakan langkah-langkah antisipatif. Sementara ini kinerja ekspor masih baik dan kami tetap optimis ekspor akan tetap mendekati US$ 200 miliar pada tahun ini. Sekarang total ekspor non migas sudah US$ 92 miliar, total sudah di atas US$ 100 miliar," imbuh Mari.

(nia/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads