Jasa Marga Mengaku Tak Nyaman Jalan Tol Macet

Jasa Marga Mengaku Tak Nyaman Jalan Tol Macet

- detikFinance
Selasa, 27 Sep 2011 10:17 WIB
Jasa Marga Mengaku Tak Nyaman Jalan Tol Macet
Bandung - Masalah kemacetan di jalan tol kerap menjadi alasan konsumen untuk berat hati menerima kenaikan tarif tol. Namun di mata operator tol mereka juga mengaku tidak nyaman dengan masih adanya kemacetan di tol sementara setiap dua tahun tarif selalu naik.

"Kami tak enjoy kalau jalan tol macet. Secara moral kita tak pantas menikmati dari kesengsaraan orang lain," kata Dirut PT Jasa Marga Tbk Frans Sunito dalam acara dialog 'Menanti Kepastian Kenaikan Tarif Jalan Tol' di Bandung, Senin malam (26/9/2011)

Ia mengatakan kemacetan di tol tak terlepas dari posisi jalan tol yang terkoneksi dengan jaringan jalan dalam kota. Hal ini berada di luar kewenangan operator tol karena menyangkut kementerian atau dinas perhubungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saran saya di kota-kota besar bangunlah transportasi massal, jangan dibangun jalan lagi, meskipun kami operator tol kami sangat mendukung transportasi massal," katanya.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo mengatakan jangkauan transportasi massal di Jakarta sangat begitu rendah. Hal ini juga yang mempengaruhi kepadatan arus lalu lintas di tol dalam kota.

"Di Tokyo ada jalan tol sampai layang, kenapa kita tidak," ucapnya.

Ia menambahkan selama ini volume lalu lintas kendaraan di tol cukup unik. Jika volume arus kendaraan berada di bawah rencana bisnis dari investor tol maka dipastikan operator itu mengalami kerugian. Sementara jika sebuah ruas tol sampai terlalu ramai atau sampai macet maka operator pun akan mengalami kerugian karena arusnya menjadi tak lancar.

Sehingga ia berpendapat soal pengelolaan infrastruktur yang dikelola swasta seperti tol tak akan berjalan baik kalau sistem tarifnya tak sehat.

"Kita tak mau memposisikan hitam putih," katanya.

Meskipun ia melihat para operator tol lebih berkonsentrasi pada pelayanan penanganan pintu tol dengan hanya 8 detik per kendaraan, demi memenuhi syarat Standar Pelayanan Minimal (SPM).Sementara masalah panjang antrean di pintu masuk sering diabaikan terutama untuk tol-tol ruas dalam kota.

"Bagi operator antrean 8 detik sudah memenuhi (SPM). Kalau soal panjang antreannya itu nggak peduli. Bagi konsumen lebih fair dari pada detik, tapi antreannya panjang, ini pilihannya bisa menambah gate atau mempercepat transaksi," katanya.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads