Pemerintah Dukung Penghentian Ekspor Timah

Pemerintah Dukung Penghentian Ekspor Timah

- detikFinance
Rabu, 28 Sep 2011 18:54 WIB
Pemerintah Dukung Penghentian Ekspor Timah
Jakarta - Pemerintah mendukung rencana para produsen timah untuk menghentikan sementara ekspor menyusul harganya yang terus merosot. Namun penghentian ekspor tidak boleh mengabaikan kontrak-kontrak yang sudah dibuat.

"Sedang kita diskusikan, kalau memang itu tidak ekonomis, percuma kita ekspor," ujar Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Thamrin Sihite saat ditemui di TMII, Jakarta, Rabu (28/9/2011).

Wakil Ketua Umum Asosiasi Timah Indonesia (AITI) Rudy Irawan sebelumnya memastikan ekspor akan dihentikan pada 1 Oktober. Langkah ini untuk mengembalikan harga timah yang anjlok karena permainan para trader dan fund manager.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita nggak main-main kita hentikan mulai 1 Oktober sampai harga wajar minimal US$ 24.000 per ton," katanya saat dihubungi detikFinance.

Indonesia saat ini merupakan produsen timah terbesar di dunia. Produksi timah dari Bangka Belitung mencapai 8.500 ton per bulan ke pasar global. Rencana Indonesia menghentikan ekspor timah itu sempat membuat harga timah melonjak hingga 7,3% menjadi US$ 21.795 per ton pada Selasa. Namun harga sudah turun lagi menjadi 2,5% menjadi US$ 21.250 per ton.

Analis komoditas senior dari ANZ Research di Singapura, Nick Trevethan mengatakan, jika Indonesia benar-benar menerapkan kebijakan larangan ekspor tersebut, maka bisa mendukung kenaikan harga.

"Jika Indonesia bisa mendorong moratorium ini, maka akan mendukung harga. Indonesia adalah eksportir terbesar di dunia dan memroduksi timah hingga 90.000 ton per tahun," ujarnya seperti dikutip dari AFP.

Namun Trevethan mengingatkan langkah tersebut tidak akan memecahkan masalah harga timah yang terutama digunakan untuk solder alat elektronik.

"Ini mungkin tidak memberikan efek jangka panjang, meskipun akan memberikan tekanan pada pasar dalam jangka pendek. Mereka juga tidak dapat menghentikan produksi untuk jangka waktu yang lama," tambahnya.
(qom/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads