Pilpres Lancar, Pengusaha Austria Teruskan Bisnis di RI

Pilpres Lancar, Pengusaha Austria Teruskan Bisnis di RI

- detikFinance
Kamis, 08 Jul 2004 12:22 WIB
Den Haag - Para pengusaha besar Austria bertekad untuk terus melakukan bisnis di Indonesia. Mereka tak berniat memalingkan bisnisnya ke anggota baru Uni Eropa, tapi mereka minta dipermudah.Sikap para pengusaha Austria tersebut disampaikan dalam acara Business Luncheon di KBRI Wina, seperti disampaikan Kepala Bidang Ekonomi Sujatmiko melalui rilis yang diterima detikcom malam ini atau Kamis 8/7/2004 WIB.Acara itu diselenggarakan untuk memanfaatkan momentum pemilu parlemen (pilpar) dan pemilihan secara langsung presiden/wakil presiden (pilpres) yang telah berjalan dengan aman dan tertib. Hadir antara lain pejabat dari Departemen Keuangan Austria, Kantor Dagang dan Industri (Kadin) Austria, Konsul Kehormatan RI di Slovenia, Konsul Kehormatan RI di Salzburg, serta para pengusaha besar Austria.Dalam sikapnya para pengusaha besar Austria, yang umumnya bergerak di bidang perbankan, konstruksi, industri, infrastruktur, furnitur, kerajinan, penerbangan dan konsultan, itu mengharapkan agar penyelenggaraan pilpar dan pilpres yang telah berjalan dengan tertib, aman dan lancar akan memberikan kontribusi terhadap iklim usaha dan investasi yang akhir-akhir ini melambat di Indonesia."Kami mengharapkan agar kondisi di Indonesia akan segera membaik sehingga Indonesia akan dapat kembali bangkit menuju bangsa yang lebih makmur dan demokratis," demikian harapan yang disampaikan dalam acara yang diselenggarakan Rabu kemarin.Para pengusaha besar Austria yang rata-rata telah melakukan bisnis di Indonesia lebih dari 20 tahun itu juga berpendapat bahwa meskipun terdapat perluasan keanggotaan Uni Eropa, dengan masuknya 10 negara bekas Blok Timur, namun hal tersebut tidak akan membuat mereka mengalihkan dan memalingkan perhatian dari Indonesia dan kawasan Asia lainnya. Menurut mereka, masa depan kawasan Asia tampaknya masih akan tetap baik untuk melakukan usaha.Dibantu SepenuhnyaSelain menyampaikan harapan dan tekad untuk tetap mempertahankan bisnisnya di Indonesia, para pengusaha besar Austria juga memberi masukan tentang sulitnya mencari pinjaman lunak pada bank-bank di Austria untuk melakukan bisnis di Indonesia akhir-akhir ini.Di samping itu mereka juga menghimbau agar para pengusaha Austria juga dapat diberikan kemudahan visa untuk masuk ke Indonesia seperti halnya rekan-rekan mereka dari Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya. Menanggapi hal itu, Duta Besar Samodra Sriwidjaja menyatakan terima kasih atas masukan tersebut dan akan menyampaikan kepada pejabat yang berwenang agar dapat ditangani dan diperhatikan lebih lanjut. Samodra menyatakan bahwa KBRI Wina siap membantu semaksimal mungkin kesulitan apapun yang dihadapi mereka dalam berbisnis di Indonesia. Samodra pada kesempatan itu juga menyatakan bahwa pada era informasi teknologi yang telah maju saat ini para pengusaha harus senantiasa mendapatkan informasi yang tepat dan sebaik-baiknya tentang Indonesia. Oleh karena itu pihaknya merasa berkewajiban untuk memberikan informasi tangan pertama terkini kepada para pengusaha yang hadir.Disampaikan lebih lanjut bahwa dengan perubahan dan perkembangan yang cepat selama kurun 5 tahun terakhir, Indonesia sudah berbeda dari Indonesia yang pernah didengar atau dilihat sebelumnya. Berbagai upaya reformasi di segala bidang telah menunjukkan perkembangan positif yang perlu dimanfaatkan oleh dunia usaha.Diplomat yang meniti karir di Deplu sejak 1975 itu menambahkan bahwa Indonesia dengan penduduknya yang berjumlah lebih dari 200 juta, apabila digabung dengan negara-negara ASEAN akan menjadi lebih dari 500 juta merupakan pasar yang cukup menjanjikan bagi kalangan usahawan. Terlebih lagi apabila digabung dengan India, China, Jepang dan Korea Selatan, maka kawasan Asia tersebut merupakan kekuatan ekonomi dunia yang patut untuk diperhitungkan. "Ini perlu dimanfaatkan oleh para pengusaha Austria, terutama dalam kaitan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN dan ASEAN dengan beberapa negara Asia Timur (Jepang, China dan Korea Selatan)," demikian Samodra. (es/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads