Inflasi September Masih 'Dihantui' Harga Beras

Inflasi September Masih 'Dihantui' Harga Beras

- detikFinance
Minggu, 02 Okt 2011 17:10 WIB
Inflasi September Masih Dihantui Harga Beras
Jakarta - Inflasi September 2011 ini masih akan dihantui oleh kenaikan harga beras. Namun kenaikan harga tersebut tidak signifikan mempengaruhi tingginya inflasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan menjelaskan untuk tren harga bulan September ini masih diwarnai dengan kenaikan harga beras karena belum ada panen. Namun, kenaikan harga panganan pokok mayoritas masyarakat Indonesia belum memberikan tekanan yang siginifikan terhadap inflasi bulan September.

"Ada beras yang naik belum turun, karena tidak ada panen raya, jadi meskipun diupayakan sekuat tenaga, beras naik. Tapi kenaikannya bisa tidak terlalu tinggi, tidak ada kejutan naiknya. Ya sepertinya inflasi September ini kontribusi dari beras sebagai penyumbang inflasi," ujarnya kepada detikFinance, Minggu (2/10/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain beras, lanjut Rusman, harga cabai juga sudah menunjukkan gejala kenaikan jika dibandingkan pada bulan sebelumnya.

"Ada pergerakan cabai mulai naik. Walaupun harga cabai masih rendah tapi karena bulan sebelumnya rendah jadi ada perhitungannya," ujarnya.

Begitupun dengan harga emas, Rusman menilai harga emas yang masih tinggi cukup memberikan "sentilan" untuk inflasi bulan September ini.

"Perhitungan harga emas, sedikit lha dari emas, emas perhiasaan. Yang lain Alhamdulillah kenaikan harga yang terjadi tidak terlalu besar," ujarnya.

Sementara daging sapi dan ayam serta telor menunjukkan penurunan harga jika dibandingkan bulan Agustus. Pasalnya, pada bulan lalu, harga komoditas tersebut sudah mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.

"Ada daging ayam, telor, daging sapi, lagi memang turun karena kemarin juga naik," tambahnya.

Oleh karena tren harga tersebut, Rusman memperkirakan inflasi bulan September ini hanya di bawah 0,5 persen.

"Dengan demikan ada yang naik yang turun, tapi hampir stabil, inflasi bisa di bawah 0,5 persen inflasi. Jadi kebanyakan pendapat pengamat itu benar," pungkasnya.

(nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads