BPS: Diversifikasi Pasar Ekspor Belum Maksimal

BPS: Diversifikasi Pasar Ekspor Belum Maksimal

- detikFinance
Senin, 03 Okt 2011 14:20 WIB
BPS: Diversifikasi Pasar Ekspor Belum Maksimal
Jakarta - Langkah diversifikasi ekspor produk Indonesia dinilai belum maksimal di tengah ancaman krisis ekonomi dunia saat ini. Indonesia butuh diversifikasi pasar ke Timur Tengah dan Afrika karena pengaruh krisis global relatif tak besar untuk dua wilayah ini.

"Meski terdengar klasik, yaitu peluang diversifikasi ekspor. Karena selama ini belum maksimal. Ekonomi Timur Tengah, mereka tidak banyak pengaruh," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di kantornya, Jakarta, Senin (3/10/2011).

Menurut Rusman, ekspor yang juga harus diperkuat adalah pasar negara-negara ASEAN. Untuk itu penting bagi Asia Tenggara untuk memperkuat ekonomi regional. Jadi saat regional lain macam Eropa terpuruk, ASEAN tetap mandiri dalam membangun kekuatan ekonominya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Andalan kita ASEAN, meski secara jangka panjang kalau terus terjadi (krisis), ada pengaruh juga di regional. Hingga perlu direct pertahankan ekspor," tuturnya.

Namun ia pun sadar potensi ekspor Timteng dan juga Afrika, masih sangat kecil. Terlebih ongkos distribusi ke negara-negara di kedua wilayah tersebut masih cukup mahal.

"Economic skill-nya masih kecil. Jadi seolah-olah tidak tertarik. Tapi potensi ada, saat semua jenuh di Eropa Barat dan AS, suka tidak suka kita tengok," tambahnya.

Upaya Indonesia untuk mendiversifikasi pasar ekspor ke Afrika, setidaknya dapat dilihat dari langkah Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar bersama sejumlah pengusaha yang bergerak di bidang farmasi, makanan dan minuman olahan, kebutuhan rumah tangga, kelapa sawit, telekomunikasi serta keuangan, mengadakan kunjungan kerja ke Nigeria dan Ghana pada 25-28 September 2011.

Pemerintah sendiri sudah mencanangkan peningkatan dua kali lipat volume ekspor Indonesia ke Afrika dalam 3 tahun ke depan. Posisi ekspor ke Afrika sampai saat ini baru US$ 4,5 miliar atau 2% dari total ekspor Indonesia.

Hingga Agustus 2011, Indonesia mencatat nilai ekspor US$ 18,81 miliar. Nilai tersebut naik 37,05% dibandingkan Agustus 2010 yang mencapai US$ 13,72 miliar, dengan nilai ekspor migas Indonesia mencapai US$ 4,09 miliar dan ekspor non migas mencapai US$ 14,72 miliar.

Total ekspor dari Januari-Agustus 2011 pun mencapai US$ 134,85 miliar, naik 36,58% dibandingkan periode yang sama di 2010. Nilaiekspor non migas untuk Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 107,3 miliar. Sumber ekspor kita adalah bahan bakar mineral yang mencapai US$ 16,98 miliar kemudian lemak dan minyak hewan/nabati mencapai US$ 13,96 miliar.

Melihat tren tersebut, hingga tutup tahun 2011 Rusman memprediksi realisasi ekspor dapat tembus US$ 200 miliar. "Nilai itu dugaan, boleh jadi akan tercapai. Kalau dalam empat bulan ke depan US$ 68 miliar, dan tambah akumulasi saat ini US$ 134 miliar," imbuh Rusman.

(wep/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads