"India jadi peta baru. Ekonominya sangat sginifkan. Negara cukup dominan dalam perdagangan bilateral," jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di kantornya Jakarta, Senin (3/10/2011).
Ekspor Indonesia ke India terbilang fantastis, setidaknya terjadi kenaikan US$ 357,2 juta dalam tempo satu bulan. Nilai ini yang terbesar dibandingkan negara lain, bahkan mengalahkan ekspor ke negara Uni Eropa yang mencapai US$ 275,3 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"India, sering kita lupa. Sekarang menjadi empat besar, US$ 1,389 miliar. India luput dari pengamatan," tutur Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Djamal.
Indonesia pun semakin diuntungkan dengan surplus perdagangan yang cukup besar dengan India. Berdasarkan catatan BPS, realisasi impor asal India hanya US$ 254,9 juta di Agustus 2011, nilai ini turun dari bulan lalu US$ 343,3 juta. Secara akumulasi Januari-Agustus impor dari India mencapai US$ 2,7 miliar, naik dari periode sebelumnya US$ 1,667 miliar.
"Perdagangan dengan India memberi surplus yang luar biasa," katanya.
Sementara BPS juga mencatat, Indonesia masih mengalami defisit perdagangan US$ 61 juta dengan China. Realisasi ekspor ke China per Agustus mencapai US$ 1,923 miliar, dan akumulasi ekspor sepanjang Januari-Agustus US$ 12,833 miliar. Sementara impor dari China yang masuk Indonesia sekitar US$ 1,98 miliar, dengan akumulasi impor (Januari-Agustus) US$ 16,373 miliar atau Indonesi masih defisit US$ 3,5 miliar dengan China.
"Perdagangan China semakin stabil, sekarang defisitnya cuma US$ 61 juta (Agustus), ke arah perdagangan bilateral yang lebih seimbang. Diharapkan tidak defisit lagi," ucap Rusman.
Ia menambahkan, turunnya rasio defisit perdagangan dengan China disebabkan oleh penguatan rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Selain juga karena naiknya ekspor bahan tambang ke nagara berpenduduk terbesar tersebut.
"Semakin defisit menunjukan ekspor kita semakin cepat. Implikasi volume kita yang tinggi. Kedua karena apresiasi rupiah bagus kemudian ekspor masih dalam standar dolar sehingga barang dari China lebih murah. Rasanya sih bukan impor berkurang impor, secara volume impor ke China juga mengalami peningkat. Tapi ekspor kita meningkat juga," imbuh Rusman.
Barang-barang tambang masih menjadi langganan ekspor Indonesia ke China. Dua terbesar adalah batubara dan CPO. Sementara impor dari China lebih kepada permesinan, besi baja, produk kimia, kendaraan, dan barang plastik.
"Besi baja karena kita melakukan pembangunan dimana-mana. Kapas, kita juga masih impor, kita nggak punya kapas. Kendaraan yang murah meriah semakin sering ditemui di jalan. Ekspor banyak batubara, karet, nikel," katanya.
Neraca perdagangan Indonesia dengan Jepang pun kini mengalami defisit, hal yang sama terjadi pada Korea. Padahal secara tradisi, perdagangan dengan kedua negara tersebut Indonesia selalu surplus.
"Biasanya kita dengan Jepang selalu surplus. Sekarang defisit. Artinya impor mengalir lebih cepat dari kemajuan ekspor," pungkasnya.
(wep/hen)











































