"Utang Merpati besar loh Rp 330 miliar," kata Dirut Garuda Emirsyah Satar di sela Rapat dengan DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (6/10/2011).
Menurut Emir, bantuan dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) dari Komisi XI kepada Merpati agar bisa dilaksanakan agar utangnya bisa dilunasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh Emir mengatakan dengan adanya pelunasan utang Merpati juga bisa mendongkrak harga sahamnya. "Ini bisa hangover harga saham Garuda juga. Ini hampir US$ 35 juta," tambahnya.
Di tempat yang sama, Deputi Menteri Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN Achiran Pandu Djajanto justru meminta utang Merpati dikonversi saham. Pasalnya Merpati bisa 'berdarah' kembali ketika PMN hanya digunakan bayar utang.
"Pencairan terlambat bisa bleeding (berdarah) itu. Apalagi jika dipakai bayar utang. Bagaimana Pak Emir jika Garuda mau atau tidak di-convert jadi saham? Bagaimana?," terang Pandu.
"Yang penting Merpati bisa terbang dulu," imbuh Pandu yang disambut tawa oleh Emir.
Garuda Pakai Dana IPO Rp 621 Miliar
Emir mengatakan Garuda telah menggunakan dana hasil penawaran umum saham perdana/Initial Public Offering (IPO) per Juni 2011 sekitar Rp 621 miliar, dari rencana total penggunaan dana IPO sebesar Rp 3,3 triliun.
"Untuk pengembangan armada baru sudah sekitar Rp 396,51 miliar. Sementara untuk belanja modal perseroan maupun anak perusahaan perseroan sudah sebesar Rp 255,50 miliar," ungkapnya.
Sehingga, dana yang belum digunakan hingga saat ini masih sekira Rp 2,53 triliun. Sisa dana hasil IPO tersebut ditempatkan di deposito berjangka 1 bulan dalam mata uang dolar dan rupiah.
(dru/dnl)











































