Babat Hutan Demi Beras, Indonesia Gali Kuburan

Babat Hutan Demi Beras, Indonesia Gali Kuburan

- detikFinance
Sabtu, 08 Okt 2011 16:26 WIB
Babat Hutan Demi Beras, Indonesia Gali Kuburan
Jakarta - Target pemerintah untuk menggenjot produksi beras hingga naik 5% disambut positif. Namun jika sampai mengorbankan hutan untuk dijadikan sawah, itu dinilai menggali kuburan di masa depan.

Anggota Komisi IV DPR Ma'mur Hasanuddin menanggapi soal pernyataan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang mengatakan kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), bahwa ia siap bersedia menyediakan lahan berapapun dalam upaya memenuhi target surplus beras.

"Apabila yang mengatakan Ketua BPN, itu tidak akan menjadi masalah, namun jika yang mengatakan menteri kehutanan, ini menjadi pernyataan yang mengerikan karena berimplikasi pada dikorbankannya lahan Hutan," jelas Ma'mur dalam keterangannya yang dikutip, Sabtu (8/10/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaiknya pemerintah dalam mencapai kemandirian pangan tidak hanya terfokus pada penyediaan beras. Pemerintah menurut Ma'mur harus Membuka kembali program diversifikasi pangan yang berdasar pada kearifan lokal menjadi lebih penting dan utama karena dengan diversifikasi, kemampuan pangan nasional akan lebih perkasa dari pada hanya mengandalkan satu produk beras saja.

"Program surplus beras sebaiknya pemerintah mencanangkannya sebagai program jangka pendek saja. Yang lebih utama adalah kemampuan pangan yang beragam di berbagai wilayah sesuai dengan kearifan lokalnya," jelas Ma'mur.

Ketergantungan terhadap beras, menurut Ma'mur menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang sangat labil terhadap pangan. Dengan alasan stabilitas negara, kebijakan impor sangat mudah dikeluarkan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) pangan yang dipimpin menko perekonomian.

"Pemerintah mestinya dapat berpikir, pengendalian stabilitas pangan untuk kedepannya bukan hanya ditentukan oleh beras. Saat ini yang terlihat dalam rakortas pangan, kalau nggak ada beras seolah dunia kiamat," cetus Ma'mur.

Padahal, justru jika mengorbankan hutan yang masih produktif untuk memenuhi kebutuhan pangan yang hanya beras, akan lebih cepat membunuh manusia secara masal.

"Jika pemerintah hendak mengorbankan hutan untuk beras, sebaiknya yang rusak-rusak saja. Karena hutan rusak kita sudah hampir setengahnya dari 130 juta hektare, lebih dari cukup untuk menyediakan lahan untuk produksi beras," tukas Ma'mur.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads