Dikatakan Suswono, kebijakan impor semua berada di tangan Menteri Perdagangan, namun seharusnya ada pembicaraan dengan menteri terkait.
"Memang yang kita sayangkan Kementerian Pertanian tidak pernah diajak bicara. Saya kira idealnya diajak bicara, sehingga nanti bisa diketahui berapa kebutuhan impor kentang itu," jelas Suswono saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (11/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang tahu kecukupan dan berapa produksinya itu ada di Kementan. Sejauh ini hampir tidak pernah diajak bicara untuk berapa volume produksi, sehingga bisa diketahui berapa kekurangannya," tegas Suswono.
Gara-gara impor kentang sayur/konsumsi dari China dan Banglades, saat ini banyak petani kentang yang terpukul. Karena harga kentang impor jauh lebih murah dibandingkan kentang lokal.
"Harga yang murah tidak membangkitkan semangat dia (petani) menanam kentang. Ini yang harus dihindari. Oleh karena itu impor hanya untuk menutup kekurangan atau paling tidak impor benih. Tapi benih sebetulnya sudah cukup," kata Suswono.
Hari ini, Suswono mengatakan akan berbicara dengan perwakilan petani pendemo kentang yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI). Para petani ini mendemo kantor Kementerian Perdagangan dan Istana Negara.
"Jadi yang jelas kami tidak pernah diajak bicara sama Mendag. Saya sudah cek ke Dirjen Holtikultura dan tidak pernah ada," tukas Suswono.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) impor kentang dan bibit kentang selama 6 bulan pertama 2011 saja sudah hampir menyamai realisasi impor tahun 2010.
Pada semester I-2011 impor kentang dan bibit kentang mencapai US$ 16 juta dengan volume 24.158 ton, padahal impor kentang sepanjang tahun lalu hanya mencapai US$ 17 juta dengan volume 26.929 ton.
(dnl/hen)










































