Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan ini karena banyaknya produk mutiara palsu yang beredar di Indonesia.
"Di pasar internasional, South Sea Pearls (SSP) Indonesia telah mampu memasok 53% kebutuhan pasar dunia, namun dari nilai perdagangan baru menempati peringkat ke-8 dunia dengan nilai perdagangan mencapai US$ 22.331.646 dan masih kalah pamor dengan SSP dari Hong Kong, Australia, China, Jepang, Tahiti, Swiss, dan USA," kata Fadel saat membuka Indonesia Pearls Festival di Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (12/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mutiara palsu dan tiruan tersebut memakai brand image SSP Indonesia, tentunya sangat merugikan dan merusak citra SSP Indonesia di pasar dunia termasuk konsumen domestik yang dirugikan dengan perdagangan mutiara-mutiara air tawar, palsu, dan tiruan tersebut," kata Fadel.
Untuk itu, kata Fadel, upaya strategi branding South Sea Pearls Indonesia adalah dengan memperkenalkan serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang keunggulan mutiara SSP Indonesia, membedakan mutiara-mutiara air tawar, palsu dan tiruan dengan mutiara SSP Indonesia yang asli atau original untuk mengangkat citra mutiara SSP Indonesia terutama di pasar dalam negeri.
Dikatakan Fadel, produksi mutiara Indonesia di 2010 mencapai 5,7 ton. Target produksi tahun ini adalah 7 ton.
Indonesia berpotensi menghasilkan 20 ton mutiara per tahun. Dari produksi tahun lalu, sekitar 5,5 ton (95%) diekspor ke Hong Kong, India, Filiphina, dan Jepang, dengan nilai sekitar US$ 30 juta.
Nilai ini masih jauh jauh di bawah nilai total perdagangan dunia yang diduga sebesar US$ 1,5 miliar.
Tercatat ada 27 perusahaan skala besar dan menengah, 100 pedagang mutiara menggeluti bisnis mutiara saar ini. Selain itu 5.000 usaha kecil penghasil benih mutiara turut terlibat dalam budidaya mutiara.
"Saya ingin Indonesia Bangkit kembali menjadi penghasil utama mutiara dunia. Kiblat produsen mutiara dunia, khususnya SSP yang pernah dimiliki Indonesia pada periode 1960an-1980an perlu dikembalikan ke Indonesia. Selain itu, perdagangan mutiara perlu ditentukan oleh pasar di Indonesia, khususnya Jakarta," tukas Fadel.
(dnl/hen)










































