Hal ini disampaikan oleh Sofjan Wanandi kepada detikFinance, Senin (17/10/2011)
"Setelah 7 tahun sudah waktunya untuk tugas yang lain. Saya melihat keputusan presiden karena pertimbangan objektif, bukan masalah gagal atau tidak gagal itu tak betul," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun menilai dengan masuknya Mari di kementerian lain bisa menjadi penyegaran bagi Mari. Sofjan mengakui, selama menjadi menteri perdagangan, Mari selalu menjadi sasaran tembak terhadap kebijakan yang dianggap kontroversial.
"Saya anggap waktu yang tepat, jadi lebih enteng tugasnya, biar nggak kena marah orang lain terus," katanya.
Menurutnya tudingan yang selama ini dialamatkan ke rekan dekatnya ini lebih karena masalah lemahnya koordinasi antar kementerian. Sehingga ia tak setuju jika kesalahan itu dijatuhkan sepenuhnya kepada Mari Pangestu.
"Bolongnya bukan karena Mari, tapi koordinasi yang tak jalan," ujar Sofjan membela.
Dikatakannya kebijakan Mari selama ini sejatinya merupakan kebijakan pemerintah. Namun ia kerap kali menjadi sasaran tembak misalnya dalam kasus kentang impor yang memang tak diatur tata niaganya, soal impor garam, soal ekspor rotan dan lain-lain.
"Ini tidak terlepas dari masalah koordinasi, nggak bisa disalahkan dia saja misalnya seperti free trade (perdagangan bebas)," katanya.
Sofjan menegaskan digesernya Mari dari kursi menteri perdagangan ke menteri pariwisata bukanlah turun pangkat, lain hal jika Mari benar-benar dicopot dari kabinet.
"Mungkin pos yang lama tak cocok seperti yang sekarang, supaya nggak pusing, dia mungkin di tempat lain," katanya.
(hen/dnl)











































