Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony ketika berbincang dengan detikFinance, Selasa (18/10/2011).
"Kalau izin RUPS (rapat umum pemegang saham) diterima, diharapkan kami membeyar utang current (berjalan) Merpati. Nilainya Rp 8,2 miliar, dan 10% dari utang tahap dua yang jumlahnya Rp 44 miliar dan US$ 700 ribu," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jhony menjelaskan, ada beberapa jenis utang yang dimiliki Merpati ke Pertamina sampai saat ini.
Utang pertama adalah di 2006 sebesar Rp 270 miliar dan yang sudah dibayarkan. Sisanya tinggal Rp 212 miliar. "Ini merupakan utang tahap satu dan akan dibayar dalam waktu 7 tahun," jelas Jhony.
Kemudian utang kedua Merpati di 2011 nilainya mencapai Rp 44 miliar dan US$ 700 ribu yang akan dibayar selama 2 tahun.
"Dan terakhir adalah utang current atau berjalan Rp 8,2 miliar. Dan ini yang akan dibayarkan lunas," jelas Jhony.
Seperti diketahui, Pertamina sempat menghentikan pasokan avturnya ke Merpati di Bandara Djuanda Suarabaya dan Bandara Hassanuddin Makassar karena utang yang belum dibayar.
Sekarang, pasokan avtur kembali lancar karena Merpati akan membayar tunai saat avtur dikirimkan oleh Pertamina di Bandara.
"Jadi setiap ada barang langsung bayar," imbuh Jhony.
Apabila nantinya pada Jumat, Merpati dan PPA gagal mendapat restu RUPS untuk membayar utang ke Pertamina, maka ada mekanisme lain yang disiapkan agar pasokan avtur ke Merpati tetap lancar.
"Pemerintah rencananya akan memerintahkan Pertamina lewat surat untuk terus memberikan avtur ke Merpati. Harus pakai surat dari Kementerian BUMN karena Pertamina harus menjaga GCG," kata Jhony.
Diakui Jhony kondisi uang perseroan sangat pas-pasan karena suntikan modal dari pemerintah belum kunjung turun. Saat ini Merpati hanya sanggup membiayai operasional sehari-hari saja.
"Pembelian avtur kami per hari sekitar Rp 2,8-3 miliar," kata Jhony.
(dnl/hen)











































