Agus Marto Waspada RI Jadi 'Korban' Perdagangan Bebas

Agus Marto Waspada RI Jadi 'Korban' Perdagangan Bebas

- detikFinance
Sabtu, 22 Okt 2011 12:09 WIB
Agus Marto Waspada RI Jadi Korban Perdagangan Bebas
Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo meminta seluruh industri dalam negeri mempersiapkan diri terkait perdagangan bebas (FTA/free trade agreement). Terlebih dengan adanya kesepakatan FTA antara ASEAN dengan Australia dan New Zeland.

Menurutnya, penguatan industri penting dalam rangka memperluas pasar, dan Indonesia menjadi yang terdepan dalam perdagangan bebas antar negara. Bukan sebaliknya, di mana impor barang terus masuk ke dalam negeri, hingga mengakibatkan defisit perdagangan.

Hal ini dikatakan Agus usai Pelantikan Pengurus Ikatan Ahli Ekonomi Syariah (IAEI) di Gedung Dhanapala, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (21/10/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena saya sudah tandatangani untuk freetrade agreement antara ASEAN dengan Australia, New Zeland. Tapi pesan saya adalah agar kita sama-sama memperkuat persiapan ekonomi dalam negeri. Karena dengan FTA ini, kalau tidak siap bukan kita yang memperluas pasar, tapi kita yang dimasukin oleh negara-negara tetangga kita," katanya.

Penguatan pada bidang teknologi saja tidak cukup. Lain hal yang tak kalah penting bagi Agus adalah memastikan sumber daya manusia yang berkualitas. Ini harus jadi perhatian juga untuk para pelaku industri.

"Memperluas pasar dengan FTA, tidak hanya Australia, termasuk dengan China, India. Kalau Indonesia tidak siap di pasar dalam negeri, bukan berhasil lebih luas. Malah kita didatangi. Dan biasanya terlihat dari surplus perdagangan kita yang cenderung akan makin keci," tegas Agus.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, jauh-jauh hari telah menyampaikan, tidak ada pengkajian ualng terkait perdagangan bebas. Pada tingkat ASEAN, FTA tidak bisa lagi dihindari, karena sudah menjadi kesepakatan bersama pemimpin-pemimpin ASEAN.

Hatta juga tak percaya, jika FTA ini menyebabkan anjloknya surplus perdagangan Indonesia.

"Sebetulnya tidak, kalau dibedah, yang mengakibatkan kecil itu karena impor migas meningkat. Kita harus meningkatkan pembangunan petrochemical dan refinery (kilang) di Indonesia, mengurangi ketergantungan impor, banyak additive, BBM, petrochemical," ucap Hatta waktu itu.

(wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads