Juni, FDI Cina Catat Rekor Tertinggi US$ 8 Miliar

Juni, FDI Cina Catat Rekor Tertinggi US$ 8 Miliar

- detikFinance
Selasa, 13 Jul 2004 13:13 WIB
Jakarta - Penanaman modal asing atau Foreign Direst Investmen (FDI) Cina pada Juni 2004 ini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarahnya yakni pada angka US$ 8 miliar. Angka ini menjadi bukti bahwa investor tidak terpengaruh rencana pemerintah Cina untuk mengerem laju pertumbuhan Cina karena dikhawatirkan menyebabkan overheating. Angka itu berarti menunjukkan kenaikan sebesar 14 persen dibandingkan angka FDI pada tahun lalu. Sebelumnya, angka FDI tertinggi Cina diperoleh pada Juni 2002 yang mencapai US$ 7,88 miliar. Bandingkan dengan angka FDI di Indonesia, berdasarkan data dari BKPM dari januari sampai Mei 2004, PMA yang disetujui sebesar 405 proyek senilai US$. 2,509 miliar. "Pada dasarnya, hal itu membuktikan bahwa investor jangka panjang dan investor asing multinasional hanya terpengaruh sedikit atas kebijakan ketat yang akan diterapkan pemerintah Cina. Anda juga dapat membacanya sebagai kepercayaan orang bahwa pemerintah Cina akan dapat memanaj overheating itu," kata ekonom HSBC Qu Hongbin seperti dilansir Reuters, Selasa (13/7/2004). Seperti diketahui, FDI Cina kembali melonjak setelah redanya kasus SARS tahun lalu. Pemerintah Cina meski mengaku akan mengerem laju pertumbuhannya, namun tetap menyambut baik kehadiran investor asing. "Faktor fundamental yang membuat Cina sebagai tempat yang tetap menarik untuk FDI," ujar Qu. Pada Juni 2004 tercatat sejumlah perusahaan multinasional menyatakan akan melakukan ekspansinya ke Cina seperti General Motor yang berniat menginvestasikan US$ 3 miliar untuk meningkatkan kapasitasnya di Cina pada tahun 2007. Demikian juka Volkswagen AG Jerman juga akan membelanjakan 740 juta Euro (US$ 900 juta) pada 2 pabrik mesinnya yang baru dan satu perusahaan mobil baru.Menperindag Cina telah memprediksikan angka investasi asing di Cina pada tahun ini akan melebihi angka pada tahun 2003 sebesar US$ 53,5 miliar. Pada tahun lalu angka FD di Cina hanya naik 1,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang melambat karena merebaknya SARS. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads