"Para pedagang bumbu dan hasil bumi pasar tradisional Kota Tegal, Jawa Tengah mulai mencemaskan membanjirnya jahe impor di pasaran setempat karena dikhawatirkan akan mempengaruhi harga komoditas lokal. Jahe impor ini mulai masuk pasar tradisional sejak dua bulan terakhir dan mulai merusak harga jahe lokal," kata Haryanti salah satu distributor Jahe lokal di pasar pagi Kota Tegal, kepada detikFinance, Jumat (28/10/2011)
Menurutnya selain lebih murah, suplai jahe impor juga tak terbatas dan tidak terkendali akibatnya jahe lokal mulai tergeser. "Harga jahe lokal, semula mampu mencapai Rp 37.000 per Kg tetapi kini turun menjadi Rp 24.000 per kg sedangkan jahe berasal dari Taiwan semula Rp 19.000 per kg turun Rp 6.500 per kg," imbuh Sodikin salah satu pedagang Hasil Bumi di Pasar Kejambon Tegal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia ciri jahe impor dapat diketahui dari bentuk ukuran yang lebih besar jika dibanding jahe lokal, warna lebih putih, rasa kurang pedas, dan banyak mengandung air.
Sodikin mengaku suplai jahe import tersebut di peroleh dari sejumlah pemasok asal Pemalang. Rata-rata pasokan mencapai 70 kwintal per satu pedagang besar di pasar tradisional di Kota Tegal.
Hal senada juga disampaikan oleh Miftahudin, distributor rempah-rempah asal Bumijawa Tegal. Menurutnya Jahe impor itu dibeli pedagang dengan harga Rp 5.000 per kg dan dijual dengan harga Rp 6.700-7.500 per Kg padahal komoditas jahe lokal justru harganya Rp 28-30.000 per Kg.
Miftahudin mengaku jika suplai tersebut tidak bisa di kendalikan, maka satu lini lagi hasil bumi lokal akan tergencet oleh komoditi impor yang akan berakibat pada banyaknya petani yang akan kehilangan lapangan usaha mereka.
(hen/hen)











































