Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan pihaknya tengah mengupayakan kerjasama dengan negara penghasil beras selain Thailand. Hal tersebut sebagai bentuk langkah antisipasi jika pemerintah Thailand menolak kontrak impor beras yang sebesar 300 ribu ton.
"Yang 300 ribu ton ini masih janji dibicarakan. Kita harus punya alternatif, kita tidak mau ambil risiko, kalau 300 ribu ton ini masih digantung, kita cari alternatif," ujarnya kepada detikFinance, Minggu (30/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang sedang proses pembicaraan, saya telah melakukan pembicaraan intens dengan duta besar Kamboja dan India, sudah komunikasi, pembicaraan resmi diharapkan segera," jelasnya.
Namun, Sutarto menyayangkan di tengah pembicaraan tersebut, ada pihak yang melontarkan isu bahwa kualitas beras dari kedua negara tersebut tidak sebaik beras asal Thailand.
"Kok orang-orang bertanya soal kualitas beras India ya? Memang ada yang mem-blame, bahwa kualitasnya kurang," keluhnya.
Sutarto menegaskan pihaknya akan memastikan beras yang nanti akan masuk ke Indonesia baik dari India maupun Kamboja memiliki kualitas yang baik.
"Kalau soal kualitas, ya kita milih-milih, tidak membeli sembarangan, tidak mau terima begitu saja. Untuk kualitas ini ada syaratnya, ada aturan-aturan internasional, ada SNI-nya (Standard Nasional Indonesia). Pastilah beras yang diimpor ini kualitasnya jauh dari kualitas produksi dalam negeri," tegasnya.
(nia/dru)










































