"Persoalan data harus clear-kan, benahi soal BPS (Badan Pusat Statistik), data harus apa adanya, jangan ditambah-tambahi supaya mendapat penghargaan," kata Suswono di acara Forum Diskusi Pengusaha dan Pemerintah mengenai pangan di kantor Kadin, Kuningan, Jakarta, Selasa (1/11/2011)
Ia mengharapkan dengan didampingi oleh wakil menteri Rusman Heriawan yang sebelumnya Kepala BPS maka data-data yang diterima pemerintah bisa akurat. "Semoga dengan wakil menteri saya, yang berasal dari BPS data-datanya bisa akurat," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suswono juga mengatakan dari sisi pasokan pangan saat ini relatif mencukupi. Namun yang menjadi masalah adalah warga miskin kota saat ini yang harus membeli beras dengan harga yang naik.
"Sebetulnya kalau kita lihat dengan kondisi sekarang ini relatif masih mencukupi, tapi kalau kita bicara pangan dan bukan beras, sebetulnya daerah-daerah itu punya kearifan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan tidak mesti dari beras," katanya.
Masalah data yang tak akurat ini, terjadi dalam kasus jumlah ternak sapi dan kerbau di Indonesia. Sebelum adanya sensus sapi, populasi sapi di Indonesia hanya tercatat 12 jutaan ekor padahal kenyataanya lebih banyak.
"Itu salah satu contoh data yang tidak akurat," katanya.
Hasil sensus sapi dan kerbau 1-30 Juni 2011 lalu tercatat populasi sapi dan kerbau mencapai 16,7 juta ekor. Dari jumlah itu populasi sapi tercatat aapi potong 14.805.053 ekor, Sapi perah 597.135 ekor, dan kerbau 1.305.016 ekor.
(hen/dnl)











































