Suswono menuturkan masalah cuaca ekstrem menjadi penyebab utama penurunan produksi tersebut. Meskipun ada faktor-faktor lain yang sudah menjadi masalah klasik seperti irigasi rusak dan serangan hama.
"Kemarau yang berkepanjangan, irigasi banyak yang rusak, hama penyakit," kata Suswono di acara Forum Diskusi Pengusaha dan Pemerintah mengenai pangan di kantor Kadin, Kuningan, Jakarta, Selasa (1/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kesigapan pemerintah setempat, Kalau ada seperti ini seolah-olah pusat yang disalahkan padahal pusat sudah memberikan dukungan ke daerah," katanya.
Menurutnya selain masalah tadi, konversi lahan pertanian padi ke komoditas lainnya juga menjadi penyebab lainnya.
"Contohnya seperti di Sumatera banyak yang beralih ke sawit dan di Jawa banyak yang beralih ke tebu, karena lebih menguntungkan. Problemnya lagi lahan hutan, kita membuka lahan dan kebun terbentur lahan hutan, makanya kita minta kerjasama dengan kehutanan," katanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Angka Ramalan III (Aram III) produksi pertanian tahun 2011. Hasilnya setidaknya ada 3 komoditi pertanian yang bakal jeblok tahun ini termasuk padi.
BPS juga memperkirakan produksi jagung tahudi 2011 (Aram III) diperkirakan sebesar 17,23 juta ton pipilan kering. Angka itu menurun sebanyak 1,10 juta ton (5,99%) dibandingkan di 2010.
Hal yang sama pun terjadi pada produksi kedelai di 2011 (ARAM III) diperkirakan sebesar 870,07 ribu ton biji kering, menurun sebanyak 36,96 ribu ton (4,08 persen) dibandingkan di 2010.
(hen/dnl)











































