Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengatakan saat ini selain India, ada upaya menjajaki impor beras dari negara lainnya seperti Pakistan dan Kamboja. Menurutnya akan dipilih beras impor dari negara mana saja yang paling menguntungkan.
"India sudah tawarkan 500.000 ton, tapi belum terima usulan resminya, karena ketika berbicara dengan menteri membicarakan MoU G to G (government to government), mereka nggak mau, maunya b to b (business to business) langsung. Jadi laksanakan saja b to b, makanya kita dukung Bulog kesana. Jadi tidak dengan pemerintah," kata Deddy saat ditemui di kantor kementerian perdagangan, Jakarta, Jumat (4/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kamboja tidak ada institusi yang mengumpulkan hasil produksi rakyat. Kemungkinan apakah akan men-set up disana, seperti halnya dilakukan Malaysia. Malaysia membuat lembaga yang mengumpulkan beras rakyat. Payungnya bisa g to g, tapi yang melaksanakan Bulog," katanya.
Menurut Deddy dengan hasil angka ramalan III terjadi penurunan produksi padi 2011 maka langkah-langkah meningkatkan produksi harus segera dilakukan. Termasukk harus ada persiapan antisipasi akan terus naiknya harga beras, yang bisa ditekan dengan menggenjot produksi seperti dalam program sewa lahan pertanian oleh BUMN.
"Saya tidak berani mengatakan harus impor, nanti dikiranya liberal. Kita hanya ditugaskan saja, kalau ditugaskan untuk impor, ya kita tunggu saja perintahnya," katanya.
Ia menuturkan adanya program BUMN yang ingin menyewa lahan dalan meningkatkan produksi beras melalui insentif atau sarana prasaran kepada kelompok petani perlu didukunga. Sayangnya, lanjut Deddy, alasan Perum Bulog belum ada pembicaraan bersama.
"Saya perlu tidak perlu kaku begitu ya, kan kalau ada produksinya apa salahnya diserap, daripada kita mengimpor lebih baik serap itu," katanya.
Awalnya rencana impor beras tahun ini sebesar 1,6 juta ton. Angka itu akan dipenuhi oleh beberapa negara seperti Vietnam dan Thailand. Bulog menyatakan telah merealisasikan impor 536.000 ton beras hingga awal Oktober 2011. Impor beras tersebut berasal dari Vietnam dari kontrak impor beras dengan Vietnam sebanyak 1,2 juta ton.
Sementara kontrak impor beras dari Thailand sebanyak 300.000 ton akhirnya dibatalkan. Untuk menutup itu Bulog mencari beras alternatif dari India dan Pakistan.
(hen/dnl)











































