Pedagang Protes, Harga Kios di Pasar Tanah Abang Kemahalan

Pedagang Protes, Harga Kios di Pasar Tanah Abang Kemahalan

- detikFinance
Rabu, 09 Nov 2011 15:47 WIB
Pedagang Protes, Harga Kios di Pasar Tanah Abang Kemahalan
Jakarta - Para pedagang tekstil dan garmen yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) meminta agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan pemerintah pusat turun tangan menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi mereka.

APPSI yang didampingi oleh tim advokasinya yaitu Indonesia Tradisional Market Watch, menilai bahwa perusahaan milik Menteri Perumahan Rakyat ini telah menetapkan harga penjualan yang mahal.

Hal tersebut membuat para pedagang pribumi kesulitan untuk membayar hingga akhirnya tersingkirkan. Hal ini terjadi pasca kebakaran yang melanda Pasar Tanah Abang Blok A pada 2003 silam, pengelolaannya diserahkan kepada PT. Primanaya Djan Internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami mengharapkan tindakan pemerintah untuk membuat kebijakan menyelesaikan permasalahan ini," kata Sekertaris Eksekutif Indonesia Tradisional Market Watch Yulianto Syahyu, dalam jumpa pers di Balaikota, Jakarta, Rabu (9/11/2011).

"Harga penjualan kios dibuat mahal sehingga pedagang pribumi menjadi kesulitan membayar cicilan. Jadi pedagang lama tersingkir dan perlahan-lahan dikuasai oleh padagang dari luar negeri," lanjutnya.

Menurut Yulianto, harga jual pasar yang dikelola oleh pemerintah berkisar antara Rp 30 juta-60 juta per meter persegi. Namun, pada kenyataannya, harga kios tersebut mencapai Rp 150 juta per meter persegi.

"Dari 3000 pedagang pribumi, sekarang tidak sampai setengahnya yang masih bertahan di sana," lanjutnya.

APPSI meminta agar pengelolaan Pasar Tanah Abang Blok A dikembalikan kepada pengelola asal, yaitu PD. Pasar Jaya. Hal itu dimaksudkan agar pengelolaannya menjadi lebih murah dan efisien.

"Jangan diberikan kepada pihak swasta dan kembalikan Tanah Abang kepada pedagang pribumi," harapnya.

(hen/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads