Ekspor Rotan Distop, Setoran Bea Cukai Tergerus

Ekspor Rotan Distop, Setoran Bea Cukai Tergerus

- detikFinance
Jumat, 11 Nov 2011 17:50 WIB
Ekspor Rotan Distop, Setoran Bea Cukai Tergerus
Palu - Rencana pemerintah melarang ekspor rotan mentah berpotensi menggerus penerimaan Ditjen Bea Cukai dari sisi bea keluar maupun bea masuk atas barang furnitur rotan yang kembali masuk ke tanah air.

"Ya itu konsekuensi logis yang harus diterima," ungkap Direktur Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono saat melakukan kunjungan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe B Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (11/11/2011).

Penerimaan negara dari sektor bea keluar merupakan penyumbang yang cukup besar selama ini. Tercatat, hingga awal November 2011, penerimaan bea keluar mencapai Rp 21,032 triliun. Namun, Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan mengaku khawatir penerimaan bea keluar akan tergerus menyusul rencana Kementerian Perdagangan yang akan menghentikan ekspor rotan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Agung belum dapat menyebutkan estimasi besaran hilangnya penerimaan bea keluar jika komoditi rotan benar-benar dilarang untuk diekspor mentah. Eksportir yang diperkirakan terkena dampaknya adalah wilayah Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Pasalnya, dua wilayah ini merupakan penyumbang terbesar bea keluar untuk komoditi rotan.

Meskipun potensi penerimaan semakin kecil, Bea Cukai tidak mempersoalkan hal tersebut. Bahkan, Agung mengaku mendukung langkah Kemendag. Dia menilai langkah tersebut tepat dan sudah sesuai dengan komitmen pemerintah guna mendorong kinerja industri dalam negeri melalui program hilirisasi, sekaligus berpotensi mengurangi angka pengganguran.

"Kita lihat multiplier effect lebih besar dibandingkan penerimaan bea keluar. Sebab, perekonomian dalam negeri lebih maksimal, industri dalam negeri bangkit karena tidak kekurangan bahan baku, dan lapangan pekerjaan bertambah," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Bea Cukai wilayah Sulteng M.Sjafei menyebutkan, selain kayu Eboni, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan kakao, potensi terbesar penerimaan bea keluar wilayah Sulteng adalah rotan.

Menurut Sjafei, rata-rata setiap tahun ekspor rotan dari Sulteng lebih dari 5.000 ton dengan tujuan terbesar ke Malaysia. Sementara untuk kako tujuan terbesar ke negara-negara produksi Coklat di Eropa.

"Ekspor rotan sekarang sudah ada kuotanya, tiap tiga bulan sekali'," ujarnya.

Sjafei menyatakan Sulteng merupakan daerah penghasil rotan nomer satu di Indonesia. Sedangkan Kalimantan masih dibawah Sulteng. Dia menyebutkan ekpor rotan berkontribusi cukup signifikan bagi penerimaan bea keluar Sulteng yang hingga akhir Oktober 2011 sudah menyentuh Rp 97,8 miliar. Meskipun persentasenya masih di bawah coklat, kontribusi rotan cukup besar.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads